Rabu, 12 Juni 2013

TEORI DALAM PEMBUATAN PROPOSAL

Laporan penelitian mempunyai dua macam, disesuaikan dengan tujuannya, yaitu:
  1. Proposal Penelitian, yaitu proposal yang berisi laporan ringkas, padat dan menyeluruh mengenai hal-hal penting apa saja yang perlu diketahui oleh pihak-pihak yang berkepentingan mengenai rencana penelitian. Jadi laporan ini dibuat sebelum penelitian dilakukan.
  2. Laporan Penelitian, yaitu bahwa seluruh pekerjaan penelitian pada akhirnya harus dibuat dalam sebuah laporan tertulis yang teknik penulisannya walaupun tidak ada standar baku akan tetapi secara umum dapat dianggap sama. Diperguruan tinggi, untuk program sarjana S1 laporan riset ini disebut skripsi, untuk program pasca sarjana S2 disebut tesis dan program doktoral S3 disebut disertasi.
Dalam pembuatan proposal penelitian mencakup bagian-bagian pokok yaitu :

1.1   Latar Belakang Masalah

        Dalam uraian mengenai latar belakang masalah pada dasarnya menunjukkan bahwa secara logiko-empiris memang ada masalah. Masalah dapat ditunjukkan secara logis maupun empirik. Masalah bukan sesuatu yang imajinatif atau seakan-akan ada masalah.Dalam latar belakang masalah juga ditunjukkan bahwa masalah itu penting secara obyektif.
        Latar Belakang masalah adalah informasi yang tersusun sistematis berkenaan dengan fenomena dan masalah problematik yang menarik untuk di teliti. Masalah terjadi saat harapan ideal akan sesuatu hal tidak sama dengan realita yang terjadi. Tidak semua masalah adalah fenomenal dan menarik. Masalah yang fenomenal adalah saat menajdi perhatian banyak orang dan di bicarakan di berbagai kalangan di masyarakat.
        Latar belakang dimaksudkan untuk menjelaskan alasan mengapa masalah dalam penelitian ingin diteliti, pentingnya permasalahan dan pendekatan yang digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut baik dari sisi teoritis dan praktis.

Latar belakang penelitian berisi :
  1. Alasan rasional dan esensial yang membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian berdasarkan fakta-fakta, data, referensi dan temuan penelitian sebelumnya.
  2. Gejala-gejala kesenjangan yang terdapat dilapangan sebagai dasar pemikiran untuk memunculkan permasalahan dan bagaimana penelitian mengisi ketimpangan yang ada berkaitan dengan topik yang diteliti.
  3. Kompleksitas masalah jika masalah itu dibiarkan dan akan menimbulkan dampak yang menyulitkan, menghambat, mengganggu bahkan mengancam.
  4. Pendekatan untuk mengatasi masalah dari sisi kebijakan dan teoritis
  5. Penjelasan singkat tentang kedudukan atau posisi masalah yang diteliti dalam ruang lingkup bidang studi yang ditekuni peneliti.

Cara membuat latar belakang masalah dengan langkah sebagai beikut :
  • Pada bagian awal latar belakang adalah gambaran umum tentang masalah yang akan di angkat. Dengan model piramid terbalik buat gambaran umum tentang masalah mulai dari hal global sampai mengerucut fokus pada masalah inti, objek serta ruang lingkup yang akan di teliti.
  • Pada bagian tengah ungkapkan fakta, fenomena, data-data dan pendapat ahli berkenaan dengan pentingnya masalah dan efek negatifnya jika tidak segera di atasi dengan di dukung juga teori dan penelitian terdahulu.
  • Bagian akhir di isi dengan alternatif solusi yang bisa di tawarkan (teoritis dan praktis) dan akhirnya munculah judul.
1.2    Rumusan dan Batasan Masalah

         Dalam pengertian umum, masalah penelitian adalah suatu pertanyaan atau pernyataan yang menyatakan tentang situasi yang memerlukan pemecahan melalui penelitian. Secara lebih spesifik, masalah penelitian merupakan pertanyaan yang menanyakan hubungan antar variabel penelitian. Pengertian lain menunjukkan bahwa masalah merupakan kesenjangan das sollen dengan das sain. Masalah juga dapat dikatakan sebagai kesenjangan antara teori dan praktik.
         Menurut Lincoln dan Cuba (Moleong, 1996:62) “masalah penelitian adalah suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang membingungkan”.  Faktor yang berhubungan itu dapat berupa konsep, data empirik, pengalaman, atau unsur  lainnya. Dengan kata lain masalah adalah hubungan antara dua (beberapa) variable yang tidak atau belum jelas . Tujuan penelitian adalah memecahkan masalah.
         Dalam identifikasi masalah, dipaparkan seluruh masalah yang ditemukan dalam latar belakang masalah. Oleh karena itu harus dihindari memunculkan masalah yang tidak memiliki landasan/pijakan dari latar belakang masalah. Bagian identifikasi masalah ini memiliki fungsi untuk menunjukkan bahwa banyak masalah yang dapat diangkat menjadi masalah penelitian.
         Namun karena keterbatasan waktu, biaya,  kemampuan dan minat peneliti serta tingkat urgensi masalah itu untuk dikaji/diteliti, maka peneliti akan membatasi pada masalah – masalah tertentu untuk diteliti. Dalam penyusunan karya tulis pembatasan sangat penting agar masalah yang diteliti tidak terlalu luas. Membatasi masalah memiliki implikasi pada  penyempitan teori dan variabel yang akan diteliti. Pembatasan masalah juga sangat membantu peneliti dalam merumuskan instrumen penelitian. Bagian ini disebut sebagai pembatasan masalah.
         Dari pembatasan masalah, maka kemudian dilanjutkan perumusan masalah. Perumusan masalah merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan-pertanyaan yang hendak dicarikan jawabannya. Perumusan masalah merupakan pernyataan yang lengkap dan rinci mengenai ruang lingkup masalah yang akan diteliti berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah. Rumusan masalah hendaknya disusun secara singkat, padat, jelas, dan dituangkan dalam bentuk kalimat tanya. Rumusan masalah yang baik akan menampakkan variabel-variabel yang diteliti, jenis atau sifat hubungan antara variabel-variabel tersebut, dan subjek penelitian.

Tahap rencana merumuskan masalah adalah sebagai berikut:
  1. Mengenali suatu masalah yang spesifik.
  2. Menguraikan secara singkat dan detail rencana penelitian.
  3. Melihat literatur teoritis yang relevan yang dapat memberi petunjuk tentang masalah yang ditemukan sehingga akan mengarahkan ada tidaknya perubahan rencana penelitian.
  4. Membaca substansiil riset sebelumnya. (Borg, 1983:85)
Dalam penyusunan masalah harus mempunyai karakteristik yaitu (Borg,1983:87) :
  1. Haruslah ditulis dalam bahasa yang jelas dan dapat merangsang minat pembaca.
  2. Masalah harus cukup terbatas di dalam lingkup masalah untuk menjadi tesis atau disertasi
  3. Masalah harus secara hati-hati di coba didalam yang lebih luas dari teori sekarang dan penelitian yang relevan. Hindari membuat asumsi atau statemen tanpa pendukung.
  4. Arti dari masalah harus ditunjukkan yaitu menyelidiki suatu pernyataan yang penting, menemukan kebutuhan yang dikenali, atau melakukan hal penting/ berguna untuk suatu kontribusi pengetahuan.
  5. Masalah harus dengan jelas dan secara logika berhubungan dengan hipotesis.
1.3    Tujuan Penelitian

         Setelah rumusan masalah kemudian dilanjutkan memaparkan tujuan penelitian. Tujuan penelitian mengungkapkan sasaran yang ingin dicapai dalam penelitian. Isi dan rumusan tujuan penelitian mengacu pada isi dan rumusan masalah penelitian. Perbedaannya terletak pada cara merumuskannya. Masalah penelitian dirumuskan dengan menggunakan kalimat tanya, sedangkan rumusan tujuan penelitian dituangkan dalam bentuk kalimat pernyataan.


Menurut Hadi (2001) tujuan dilakukannya penelitian adalah sebagai berikut:
  1. Menemukan pengetahuan
  2. Mengembangkan pengetahuan
  3. Menguji kebenaran suatu pengetahuan
Berdasarkan tujuannya, penelitian dapat dibedakan ke dalam tiga jenis, meliputi: 
  1.  Penelitian Eksploratif
Yaitu penelitian yang dilaksanakan untuk menggali data dan informasi tentang topik atau isu-isu baru yang ditujukan untuk kepentingan pendalaman atau penelitian lanjutan. Tujuan penelitian adalah untuk merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang lebih akurat yang akan dijawab dalam penelitian lanjutan atau penelitian kemudian. Peneliti biasanya menggunakan penelitian eksplorasi ini untuk mendapatkan pengetahuan yang cukup dalam penyusunan desain dan pelaksanaan kajian lanjutan yang lebih sistematis.
Penelitian eksploratory pada umumnya dilaksanakan untuk menjawab pertanyaan ”Apa (what)” (Apa sesungguhnya fenomena sosial tersebut?). Pada penelitian ini seringkali menggunakan data-data kualitatif.


        2.  Penelitian deskriptif

Penelitian deskriptif menghadirkan gambaran tentang situasi atau fenomena sosial secara detil. Dalam penelitian ini, peneliti memulai penelitian dengan desain penelitian yang terumuskan secara baik yang ditujukan untuk mendeskripsikan sesuatu secara jelas. Penelitian deskriptif biasanya berfokus pada pertanyaan ”bagaimana (how)” dan ”siapa (who)” (Bagaimana fenomena tersebut terjadi? Siapa yang terlibat didalamnya?)

         3.  Penelitian Eksplanatif

Tujuan penelitian eksplanatif adalah untuk memberikan penjelasan mengapa sesuatu terjadi atau menjawab pertanyaan ”mengapa (why)”.

1.4    Manfaat Penelitian


Di dalam sebuah penelitian mengandung 2 manfaat penelitian, yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis.
  • Manfaat Teoritis
Penelitian yang bertitik tolak dari meragukan suatu teori tertentu disebut penelitian verifikatif. Keraguan terhadap suatu teori muncul jika teori yang bersangkutan tidak bisa lagi menjelaskan peristiwa-peristiwa aktual yang dihadapi. Pengujian terhadap teori tersebut dilakukan melalui penelitian empiris, dan hasilnya bisa menolak, atau mengukuhkan, atau merevisi teori yang bersangkutan.
  • Manfaat Praktis
Pada sisi lain, penelitian bermanfaat pula untuk memecahkan masalah-masalah  praktis. Hampir semua lembaga yang ada di masyarakat, baik lembaga pemerintahan maupun lembaga swasta, menyadari manfaat ini dengan menempatkan penelitian dan pengembangan sebagai bagian integral dalam organisasi mereka. Kedua manfaat penelitian tersebut merupakan syarat dilakukannya suatu penelitian sebagaimana dinyatakan dalam rancangan (desain) penelitian.

1.5    Metode Penelitian


         Istilah metode penelitian terdiri atas dua kata, yaitu kata metode dan kata penelitian. Kata metode berasal dari bahasa Yunani yaitu methodos yang berarti cara atau menuju suatu jalan. Metode merupakan kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan suatu cara kerja (sistematis) untuk memahami suatu subjek atau objek penelitian, sebagai upaya untuk menemukan jawaban yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah dan termasuk keabsahannya [Rosady Ruslan, Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi, (Jakarta: Rajawali Pers, 2003), hal. 24]. 

         Adapun pengertian penelitian adalah suatu proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara sistematis, untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Pengumpulan dan analisis data dilakukan secara ilmiah, baik bersifat kuantitatif maupun kualitatif, eksperimental maupun non eksperimental, interaktif maupun non interaktif [Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Rosda Karya, 2005), hal. 5].
         Dari pengertian di atas kita dapat mengetahui bahwa metode penelitian adalah suatu cara untuk memecahkan masalah ataupun cara mengembangkan ilmu pengetahuan dengan menggunakan metode ilmiah. Secara lebih luas lagi Sugiyono[ Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2009) hal. 6] menjelaskan bahwa metode penelitian adalah cara-cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid, dengan tujuan dapat ditemukan, dikembangkan dan dibuktikan, suatu pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan, dan mengantisipasi masalah.

1.5.1   Objek Penelitian
Dalam objek penelitian ini menjelaskan profil singkat seperti nama,tempat, dan atribut lain dari objek yang akan diteliti
 
1.5.2   Data

           Menurut Husein umar (2003) yang mengutip pendapat Mc. Leod (1995), pengertian data dari sudut ilmu sistem informasi adalah suatu fakta dan angka yang secara relatif tidak berarti bagi pemakai. Sebagai ilustrasi, misalnya jumlah jam kerja karyawan. Saat data ini diproses, ia dapat berubah menjadi informasi misalnya dengan mengalikan jumlah jam kerja dan upah per jam sehingga didapat hasil pendapatan kotor. Jika pendapatan kotor ini dijumlahkan maka penjumlaha ini merupakan total biaya gaji karyawan harian. Jumlah biaya gaji ini dapat dijadikan informasi bagi manajemen. Jadi informasi merupakan data yang telah diolah dan memiliki arti bagi pemakai.

1.5.3   Metode Pengumpulan Data

  1. Data Primer, merupakan data yang didapat dari sumber pertama baik dari individu atau perseorangan, seperti hasil wawancara, pengisisan kuesioner, dan observasi.
  2. Data Sekunder, merupakan data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pihak pengumpul data primer atau oleh pihak lain. Data sekunder disajikan antara lain dalam bentuk tabel-tabel atau diagram-digram. Data sekunder ini digunakan oleh peneliti untuk diproses lebih lanjut, misalnya data kinerja perbankan nasional yang dikeluarkan suatu badan riset.
Cara Pengumpulan Data 
  1. Observasi, yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan melihat secara langsung di tempat lokasi dan mencatat hal-hal yang dipergunakan dalam perusahaan.
  2. Interview, yaitu dengan mengadakan wawancara langsung dengan pimpinan, staf dan para karyawan untuk memperoleh data-data yang sebenarnya.
  3. Dokumentasi, yaitu pengambilan data secara tertulis atau data yang sudah tersedia di tempat penelitian seperti:
        –    Sejarah singkat perusahaan
        –    Struktur organisasi
        –    Data-data yang berhubungan dengan data penelitian

    4.  Kuesioner, yaitu pengumpulan data dengan menyebarkan daftar pertanyaan pada responden  yang disusun secara  terstruktur, sehingga diperoleh data yang akurat berupa tanggapan langsung responden (karyawan).

Sedangkan untuk pemberian skor skala likert, menurut Sugiyono, (1999:87):
Untuk keperluan analisis kuantitatif, maka jawaban dapat diberi skor, misalnya:
1.    Setuju/selalu/sangat positif diberi skor      (5)                             
2.    Setuju/sering/positif diberi skor  (4)                                            
3.    Ragu-ragu/kadang-kadang/netral diberi skor  (3)                       
4.    Tidak setuju/hampir tidak pernah/negatif diberi skor   (2)         
5.    Sangat tidak setuju/tidak pernah/sangat negatif diberi skor (1)   


1.5.4  Hipotesis

          Hipotesis berasal dari bahasa Yunani yaitu hypo yang artinya di bawah dan thesis yang artinya pendirian, pendapat yang ditegakkan, atau kepastian. Jadi hipotesa merupakan sebuah istilah ilmiah yang digunakan dalam rangka kegiatan ilmiah yang mengikuti kaidah-kaidah berfikir biasa, secara sadar, teliti, dan terarah. Dalam penggunaannya sehari-hari hipotesa ini sering juga disebut dengan hipotesis, tidak ada perbedaan makna di dalamnya.
         Sedangkan menurut tatabahasa hipotesis berarti suatu pernyataan yang kedudukannya belum sekuat suatu proposisi atau dalil. Menurut pola umum metode ilmiah, setiap penelitian terhadap suatu objek hendaknya di bawah tuntunan suatu hipotesis yang berfungsi sebagai pegangan sementara atau jawaban sementara yang masih harus dibuktikan kebenarannya di dalam kenyataan (empirical verification), percobaan (experimentation) ataupun dalam prakteknya (implementation).
         Hipotesis ilmiah mencoba mengutarakan jawaban sementara terhadap masalah yang akan ditelit. Hipotesis menjadi teruji apabila semua gejala yang timbul tidak bertentangan dengan hipotesis tersebut. Dalam upaya pembuktian hipotesis, peneliti dapat saja dengan sengaja menimbulkan atau menciptakan suatu gejala. Kesengajaan ini disebut percobaan atau eksperimen. Hipotesis yang telah teruji kebenarannya disebut teori.

Ciri-Ciri Hipotesis Yang Baik :
Perumusan hipotesis yang baik dan benar harus memenuhi ciri-ciri sebagai berikut:

  • Hipotesis harus dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan deklaratif, bukan kalimat pertanyaan.
  • Hipotesis berisi penyataan mengenai hubungan antar paling sedikit dua variabel penelitian.
  • Hipotesis harus sesuai dengan fakta dan dapat menerangkan fakta.
  • Hipotesis harus dapat diuji (testable). Hipotesis dapat duji secara spesifik menunjukkan bagaimana variabel-variabel penelitian itu diukur dan bagaimana prediksi hubungan atau pengaruh antar variabel termaksud.
  • Hipotesis harus sederhana (spesifik) dan terbatas, agar tidak terjadi kesalahpahaman pengertian.
 1.5.5   Metode Analisis Data


          A.   Uji Validitas
Menurut Husein Umar (2003:179) validitas menunjukan sejauh mana suatu alat pengukur itu mengukur apa yang ingin diukur. Uji validitas yang digunakan adalah uji korelasi product moment dan diolah dengan menggunakan program SPSS 20. Uji validitas dapat diketahui dengan membandingkan antara r hitung dari hasil olahan komputer dengan r tabel dari tabel r product moment.
Dasar pengambilan keputusan untuk menguji validitas butir angket adalah :
- Jika r hitung positif dan r hitung > r tabel maka variabel tersebut valid
- Jika r hitung tidak positif serta r hitung < r tabel maka variabel tersebut tidak valid


           B.   Uji Reliabilitas
Reabilitas adalah suatu angka indeks yang menunjukan konsistensi suatu alat pengukur di dalam mengukur gejala yang sama. teknik pengujian dengan menggunakan metode Alpha Cronbach. Perhitungan Alpha Cronbach dapat menggunakan alat bantu program komputer yaitu SPSS for Windows 2.0 dengan menggunakan model Alpha. Suatu instrumen dikatakan reliabel jika nilai alpha lebih besar dari 0,600 (Ghozali, 2009).


           C.   Uji Asumsi Klasik
Pengujian asumi klasik dilakukan untuk mengetahui kondisi data yang ada agar dapat menentukan model analisis yang tepat. Untuk menguji apakah persamaan garis regresi yang diperoleh linier dan dapat dipergunakan untuk melakukan peramalan, maka harus dilakukan uji asumsi klasik yaitu:

  • Uji Multikolonieritas 
Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (Ghozali, 2009). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variable bebas. Jika variabel bebas saling berkorelasi, maka variabel-variabel ini tidak ortogonal adalah variabel bebas yang nilai korelasi antar sesama variabel bebas sama dengan nol. Multikolonieritas dideteksi dengan menggunakan nilai  tolerance  dan Variance Inflation Factor (VIF). Tolerance mengukur variabilitas variabel bebas yang terpilih yang tidak dapat dijelaskan oleh variabel bebas lainnya. Jadi nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF yang tinggi (karena VIF=1/  tolerance) dan menunjukkan adanya kolinearitas yang tinggi. Nilai cutoff yang umum dipakai adalah nilai tolerance 0,10 atau sama dengan nilai VIF dibawah 10.
  • Uji Autokorelasi
Sama halnya dengan uji multikolonieritas, Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variable bebas. Ada tidaknya autokorelasi dalam penelitian ini dideteksi dengan menggunakan uji Durbin–Watson dengan melihat nilai pada durbin-watson < 2.20.

          D.    Analisis Regresi Berganda
Analisis regresi berganda digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel independent terhadap variabel dependent. Adapun bentuk persamaan regresi linear berganda yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3
Keterangan :
Y = Variabel dependent
b1, b2, b3 = Koefisiensi regresi
X1, X2,X3 sebagai variabel independent


            E.    Uji Goodness of Fit
Uji Goodness of Fit digunakan untuk mengukur ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai aktual. Uji Goodness of Fit dapat dilakukan dengan metode statistik, yaitu melalui pengukuran nilai koefisien determinasi, nilai statistik  F dan nilai statistik t. Menurut Ghozali(2009), perhitungan statistik disebut signifikan secara statistik apabila nilai uji statistiknya berada dalam daerah kritis (daerah dimana Ho ditolak). Sebaliknya perhitungan statistik disebut tidak signifikan apabila nilai uji statistiknya berada dalam daerah dimana Ho diterima.

- Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali, 2009). Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen.

- Uji Signifikansi Simultan
Uji F yaitu suatu uji untuk mengetahui pengaruh variabel bebas (X) secara simultan terhadap variabel terikat (Y). Model hipotesis yang digunakan adalah:
H0: b1 = b2 = b3 =0 artinya variabel bebas (X) secara bersama-sama tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel terikat (Y).
H0: b1 ≠ b2 ≠ b3 artinya variabel bebas (X) secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel terikat (Y).
Nilai F hitung akan dibandingkan dengan nilai Ftabel. Kriteria pengambilan
keputusan, yaitu:
• H0 diterima bila Fhitung < Ftabel pada α = 5%
• H0 ditolak bila Fhitung > Ftabel pada α = 5%

- Uji Parsial (Uji t)
Uji t digunakan untuk menguji signifikansi konstanta dari setiap variabel independen benar-benar berpengaruh secara parsial (terpisah) terhadap variabel dependennya. Kriteria pengujian dengan tingkat signifikansi (a) = 0,05 ditentukan sebagai berikut : 
−  t hitung < t tabel, maka H0 diterima 
−  t hitung > t tabel, maka H0 ditolak


 

KAJIAN PUSTAKA
 

         Kajian pustaka dalam penelitian, baik penelitian pustaka maupun penelitian lapangan mempunyai kedudukan yang sangat penting. Bahkan tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kajian pustaka merupakan variabel yang menentukan dalam suatu penelitian. Karena akan menentukan cakrawala dari segi tujuan dan hasil penelitian. Di samping itu, berfungsi memberikan landasan teoritis tentang mengapa penelitian tersebut perlu dilakukan dalam kaitannya dengan kerangka pengetahuan. Oleh karena itu, pengertian kajian pustaka umumnya dimaknai berupa ringkasan atau rangkuman dan teori yang ditemukan dari sumber bacaan (literatur) yang ada kaitannya tema yang akan diangkat dalam penelitian.
         Tujuan utama kajian pustaka adalah untuk mengorganisasikan penemuan-penemuan peneliti yang pernah dilakukan. Hal ini penting karena pembaca akan dapat memahami mengapa masalah atau tema diangkat dalam penelitiannya. Di samping itu, kajian pustaka juga bermaksud untuk menunjukkan bagaimana masalah tersebut dapat dikaitkan dengan hasil penelitian dengan pengetahuan yang lebih luas.
          Dalam kajian pustaka dimuat esensi-esensi hasil penelitian literatur yaitu berupa teori-teori. Uraian teori yang disusun bisa dengan kata-kata penulis secara bebas dengan tidak mengurangi makna teori tersebut, dapat juga dalam bentuk kutipan dari tulisan orang lain, yaitu kutipan langsung tanpa mengubah kata-kata atau tanda bacaan, kemudian dianalisis dibandingkan dan dikonstuksikan, teori-teori dan temuan-temuan itu harus relevan dengan permasalahan penelitian yang akan dilakukan. Kegunaannya adalah untuk bahan acuan penelitian. Kebenaran yang diperoleh dari penelitian tersebut karena ada acuan disebut kebenaran koherensi, artinya terdapat relevansi dengan teori-teori yang telah dikemukakan para ahli terdahulu.


Sumber :  
http://edukasi.kompasiana.com/2012/12/13/cara-membuat-latar-belakang-masalah-510625.html
http://www.referensimakalah.com/2012/08/pengertian-dan-tujuan-kajian-pustaka.html
http://garasighaliya.blogspot.com/2010/04/pengertian-tujuan-dan-kegunaan.html
http://kutukuliah.blogspot.com/2013/03/fungsi-manfaat-kegunaan-penelitian.html
http://addriadis.blogspot.com/2013/03/pengertian-metode-penelitian-menurut.html
Husein Umar. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Umum, 2003

Sabtu, 04 Mei 2013

DATA

Pengertian Data

Menurut Husein umar (2003) yang mengutip pendapat Mc. Leod (1995), pengertian data dari sudut ilmu sistem informasi adalah suatu fakta dan angka yang secara relatif tidak berarti bagi pemakai. Sebagai ilustrasi, misalnya jumlah jam kerja karyawan. Saat data ini diproses, ia dapat berubah menjadi informasi misalnya dengan mengalikan jumlah jam kerja dan upah per jam sehingga didapat hasil pendapatan kotor. Jika pendapatan kotor ini dijumlahkan maka penjumlaha ini merupakan total biaya gaji karyawan harian. Jumlah biaya gaji ini dapat dijadikan informasi bagi manajemen. Jadi informasi merupakan data yang telah diolah dan memiliki arti bagi pemakai.

Jenis-Jenis Data
  1. Data Primer, merupakan data yang didapat dari sumber pertama baik dari individu atau perseorangan, seperti hasil wawancara, pengisisan kuesioner, dan observasi.
  2. Data Sekunder, merupakan data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pihak pengumpul data primer atau oleh pihak lain. Data sekunder disajikan antara lain dalam bentuk tabel-tabel atau diagram-digram. Data sekunder ini digunakan oleh peneliti untuk diproses lebih lanjut, misalnya data kinerja perbankan nasional yang dikeluarkan suatu badan riset.
Cara Pengumpulan Data
  1. Observasi, yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan melihat secara langsung di tempat lokasi dan mencatat hal-hal yang dipergunakan dalam perusahaan.
  2. Interview, yaitu dengan mengadakan wawancara langsung dengan pimpinan, staf dan para karyawan untuk memperoleh data-data yang sebenarnya.
  3. Dokumentasi, yaitu pengambilan data secara tertulis atau data yang sudah tersedia di tempat penelitian seperti:
        –    Sejarah singkat perusahaan
        –    Struktur organisasi
        –    Data-data yang berhubungan dengan data penelitian

    4.  Kuesioner, yaitu pengumpulan data dengan menyebarkan daftar pertanyaan pada responden  yang disusun secara  terstruktur, sehingga diperoleh data yang akurat berupa tanggapan langsung responden (karyawan).

Sedangkan untuk pemberian skor skala likert, menurut Sugiyono, (1999:87):
Untuk keperluan analisis kuantitatif, maka jawaban dapat diberi skor, misalnya:
1.    Setuju/selalu/sangat positif diberi skor                                   (5)
2.    Setuju/sering/positif diberi skor                                              (4)
3.    Ragu-ragu/kadang-kadang/netral diberi skor                          (3)
4.    Tidak setuju/hampir tidak pernah/negatif diberi skor             (2)
5.    Sangat tidak setuju/tidak pernah/sangat negatif diberi skor    (1)

Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
 
Sampel merupakan kumpulan obyek atau orang yang mewakili populasi, dalam penelitian. Ada tiga hal pokok penting dalam pengambilan sampel dari populasi, yaitu:
  • Populasi yang terhingga dan yang tidak terhingga.
  • Pengambilan sampel secara probabilitas dan non yang probabilitas.
  • Pengambilan sampel dengan membagi-bagi dulu populasi menjadi beberapa bagian yang disebut subpopulasi sehingga subpopulasi menjadi relatif homogen atau heterogen dan pengambilan sampel langsung dari populasi yang tidak dibagi-bagi dulu menjadi beberapa subpopulasi.
Beberapa teknik dalam pengambilan sampel meliputi :

1).    Pengambilan Sampel Probabilitas/Acak
Adalah suatu metode pemilihan ukuran sampel, dimana setiap anggota populasi mempunyai   peluang yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel, sehingga metode ini sering disebut sebagai prosedur yang terbaik. Ada tiga cara pengambilan sampel dengan metode ini yaitu :
a.    Simple Random Sampling
  • Cara Undian
  • Cara Tabel Bilangan Random
  • Cara Sistematis/Ordinal
b.    Cara Stratifikasi (Stratified Random Sampling)
Adalah populasi yang dianggap heterogen menurut suatu karakteristik tertentu terlebih dahulu dikelompok-kelompokankan dalam beberapa subpopulasi yang memiliki anggota sampel yang relatif homogen.
c.    Cara Kluster (Clustre Sampling)
Cara ini mirip dengan stratifikasi, perbedaannya jika stratifikasi mengakibatkan adanya subpopulasi yang unsur-unsurnya hemogen, sedangkan kluster unsur-unsurnya heterogen.

2).    Pengambilan Sampel Non-probabilitas/Non-acak
Dengan cara ini semua elemen populasi belum tentu memiliki peluang     yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Ada lima cara pengambilan sampel non-acak yaitu :
a.    Cara Keputusan (judgment Sampling)
b.    Cara Kuota (Quota Sampling)
c.    Cara Dipermudah (Convinience Sampling)
d.    Cara Bola Salju (Snowball Sampling)
e.    Are Sampling

3).    Kekeliruan Sampling
4).    Sampel Harus Berdistribusi Normal
Untuk menentukan apakah data sampel berdistribusi normal, ada beberapa cara antara lain dengan:
  • Kurva Normal
  • Kertas Peluang Normal
  • Uji lilliefors
  • Uji Chi Kuadrat
Variabel Penelitian

Sugiyono (1997), menyatakan bahwa variabel di dalam penelitian merupakan suatu atribut dari sekelompok obyek yang diteliti, mempunyai variasi antara satu dan lainnya dalam kelompok tersebut, misalnya tinggi badan dan berat badan yang merupakan atribut dari seseorang yang dalam hal ini adalah obyek penelitiannya.

Variabel mempunyai bermacam-macam bentuk menurut hubungan antara satu variabel dan variabel lainnya, yaitu :
1.    Variabel independent, variabel yang menjadi sebab terjadinya/terpengaruhnya variabel dependent.
2.    Variabel dependent, yaitu variabel yang nilainya dipengaruhi oleh variabel independent
3.    Variabel moderator, yaitu variabel yang memperkuat atau memperlemah hubungan antara variabel dependent dan independent.
4.    Variabel intervening, seperti variabel moderator, tetapi nilainya tidak dapat diukur, seperti kecewa, gembira, sakit hati.
5.    Variabel kontrol, yaitu variabel yang dikendalikan peneliti.
6.    Variable dummy (boneka), yaitu variabel yang isinya berupa kode-kode yang berfungsi untuk membedakan data yang berada pada variabel-variabel tertentu lainnya pada kelompok-kelompoknya. 

Sumber :
Husein Umar. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Umum, 2003

HIPOTESIS

Pengertian Hipotesis

Hipotesis berasal dari bahasa Yunani yaitu hypo yang artinya di bawah dan thesis yang artinya pendirian, pendapat yang ditegakkan, atau kepastian. Jadi hipotesa merupakan sebuah istilah ilmiah yang digunakan dalam rangka kegiatan ilmiah yang mengikuti kaidah-kaidah berfikir biasa, secara sadar, teliti, dan terarah. Dalam penggunaannya sehari-hari hipotesa ini sering juga disebut dengan hipotesis, tidak ada perbedaan makna di dalamnya.

Sedangkan menurut tatabahasa hipotesis berarti suatu pernyataan yang kedudukannya belum sekuat suatu proposisi atau dalil. Menurut pola umum metode ilmiah, setiap penelitian terhadap suatu objek hendaknya di bawah tuntunan suatu hipotesis yang berfungsi sebagai pegangan sementara atau jawaban sementara yang masih harus dibuktikan kebenarannya di dalam kenyataan (empirical verification), percobaan (experimentation) ataupun dalam prakteknya (implementation).

Hipotesis ilmiah mencoba mengutarakan jawaban sementara terhadap masalah yang akan ditelit. Hipotesis menjadi teruji apabila semua gejala yang timbul tidak bertentangan dengan hipotesis tersebut. Dalam upaya pembuktian hipotesis, peneliti dapat saja dengan sengaja menimbulkan atau menciptakan suatu gejala. Kesengajaan ini disebut percobaan atau eksperimen. Hipotesis yang telah teruji kebenarannya disebut teori.

Kegunaan Hipotesis

Secara garis besar kegunaan hipotesis adalah sebagai berikut(Nazir 1983):
  1. Memberikan batasan serta memperkecil jangkauan penelitian dan kerja penelitian.
  2. Mensiagakan peneliti kepada kondisi fakta dan hubungan antarfakta, yang kadangkala hilang begitu saja dari perhatian peneliti.
  3. Sebagai alat yang sederhana dalam memfokuskan fakta yang bercerai berai tanpa koordinasi ke dalam suatu kesatuan penting dan menyeluruh.
  4. Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta dan antar fakta
Tinggi rendahnya kegunaan hipotesis sangat bergantung dari (Nazir 1983) :
1.    Pengamatan yang tajam dari si peneliti
2.    Imajinasi serta pemikiran kreatif dari si peneliti
3.    Kerangka analisis yang digunakan oleh si peneliti
4.    Metode serta desain penelitian yang dipilih oleh peneliti

Sedangkan menurut Husein umar Fungsi Hipotesis itu sendiri adalah sebagai berikut:
1.    Sebagai jawaban sementara yang masih perlu diuji kebenarannya.
2.    Petunjuk kearah penyidikan yang lebih lanjut.
3.    Sebagai suatu ‘working hypotesis’ atau hipotesis kerja.
4.    Suatu ramalan atau dugaan tentang sesuatu yang bakal datang atau bakal ditemukan.
5.    Sebagai konsep yang berkembang.
6.    Sebagai bahan dari bangunan dari suatu teori.

Ciri-Ciri Hipotesis Yang Baik

Perumusan hipotesis yang baik dan benar harus memenuhi ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Hipotesis harus dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan deklaratif, bukan kalimat pertanyaan.
  2. Hipotesis berisi penyataan mengenai hubungan antar paling sedikit dua variabel penelitian.
  3. Hipotesis harus sesuai dengan fakta dan dapat menerangkan fakta.
  4. Hipotesis harus dapat diuji (testable). Hipotesis dapat duji secara spesifik menunjukkan bagaimana variabel-variabel penelitian itu diukur dan bagaimana prediksi hubungan atau pengaruh antar variabel termaksud.
  5. Hipotesis harus sederhana (spesifik) dan terbatas, agar tidak terjadi kesalahpahaman pengertian.
Jenis Hipotesis

Menurut Husein Umar (2003) didalam penelitian dikenal beberapa jenis hipotesis,di antaranya adalah sebagai berikut:
  1. Preliminary hyphotesis ialah hipotesis pendahuluan atau hipotesis sementara, yang belum atau sedang diuji kebenarannya. Contoh, seseorang beranggapan karena logikanya, Bahwa kepuasan kerja seseorang sangat tergantung pada gaji atau pendapatan yang diterimanya setelah bekerja.
  2. Hipotesis yaitu hipotesis pada umumnya atau premilinary hyphotesis yang sudah diuji kebenarannya dan telah diterimasebagai hipotesis. Contoh, bahwa telah banyak penelitian yang membuktikan ternyata benar adanya bahwa gaji ternyata berpengaruh kuat terhadap kepuasan kerja seseorang.
  3. Hipotesi penelitian yaitu hipotesis yang berfungsi sebagai penuntun dalam melakukan penelitian. Misalnya, dalam perihal gaji yang berpengaruh kuat terhadap kepuasan kerja. Disuatu perusahaan yang bergerak dalam bidang konsultan manajemen akan diteliti apa benar bahwa gaji mempunyai pengaruh besar terhadap kepuasan kerja para konsultan. Jadi, penelitian akan fokus ke sana saja, tidak muter-muter.
  4. Asumsi ialah anggapan. Misalnya, hipotesis bahwa sekitar tahun 2010 pulau jawa akan menjadi kota-pulau. Hipotesis ini berdasarkan asumsi-asumsi tertentu; pertambahan penduduk begini dan begitu, dan lain-lain.
  5. Hipotesis Nol. Merupakan pernyataan sementara suatu parameter yang akan diuji melalui uji statistik. Contoh, misalkan ada dua kelompok mahasiswa:
                a.    Mahasiswa yang kos/kontrak
                b.    Mahasiswa yang tinggal bersama orangtua

Pertanyaan :  Adakah korelasi antara prestasi mahasiswa dan tempat tinggal mahasiswa antara yang   kos/kontrak dan tinggal bersama orang tua?
Jawab :  Ho: Tidak ada perbedaan

Hipotesis ini menuntun penelitian terhadap kedua kelompok. Kalau ternyata benar, hipotesis nol itu diterima sebagai tesis. Sebaliknya, kalau terbukti keliru, hipotesis nol itu ditolak dan dirumuskanlah hipotesis baru.

Uji hipotesis

Uji Hipotesis adalah metode pengambilan keputusan yang didasarkan pada fungsi sebagai penuntun dalam analisa data, baik dari percobaan yang terkontrol, maupun dari observasi (tidak terkontrol). Dalam statistik sebuah hasil bisa dikatakan signifikan secara statistik jika kejadian tersebut hampir tidak mungkin disebapkan oleh faktor yang kebetulan, sesuai dengan batas probabilitas yang sudah ditentukan sebelumnya.

Uji hipotesis kadang disebut juga "konfirmasi analisa data". Keputusan dari uji hipotesis hampir selalu dibuat berdasarkan pengujian hipotesis nol. Ini adalah pengujian untuk menjawab pertanyaan yang mengasumsikan hipotesis nol adalah benar.
Daerah kritis (en= Critical Region) dari uji hipotesis adalah serangkaian hasil yang bisa menolak hipotesis nol, untuk menerima hipotesis alternatif. Daerah kritisini biasanya di simbolkan dengan huruf C.

Contoh Uji Hipotesis
Seorang yang dituduh pencuri dihadapkan kepada seorang hakim. Seorang hakim akan menganggap orang tersebut tidak bersalah, sampai kesalahannya bisa dibuktikan. Seorang jaksa akan berusaha membuktikan kesalahan orang tersebut.
Dalam kasus ini, Hipotesis nol (H0) adalah: "Orang tersebut tidak bersalah", dan Hipotesis alternatif (H1) adalah : "Orang tersebut bersalah". Hipotesis alternatif (H1) inilah yang akan dibuktikan.
Ada dua kondisi yang mungkin terjadi terhadap orang tersebut:
1.    Orang tersebut tidak bersalah.
2.    Orang tersebut bersalah.
Dan ada dua keputusan yang bisa diambil hakim
1.    Melepaskan orang tersebut.
2.    Memenjarakan orang tersebut.




                                                  Hipotesis nol (H0) benar               Hipotesi alternatif (HI) benar
                                                  (Orang tersebut tidak bersalah)     (Orang tersebut bersalah)
                                                      

Menerima hipotesis nol                Keputusan yang benar                Keputusan yang salah
(Orang tersebut dibebaskan)         Keputusan yang salah                (kesalahan Tipe II)
                                                                                       
Menolak hipotesis nol                  Keputusan yang salah                 Keputusan yang benar
(Orang tersebut dipenjara)            (Kesalahan Tipe I)  

Dalam kasus ini, ada dua kemungkinan kesalahan yang dilakukan hakim
1.    Memenjarakan orang yang benar (Kesalahan Tipe I)
2.    Melepaskan orang yang bersalah (Kesalahan Tipe II)

Sumber :
Husein Umar. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Umum, 2003
http://id.wikipedia.org/wiki/Hipotesis
http://sinaukomunikasi.wordpress.com/2011/10/16/merumuskan-hipotesis/

METODE ILMIAH

Pengertian Metode Ilmiah

Metode ilmiah dapat dikatakan suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis. Karena ideal dari ilmu adalah untuk memperoleh interelasi yang sistematis dari fakta-fakta, maka metode ilmiah berkehendak untuk mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan pendekatan kesangsian sistematis. Karena itu, penelitian dan metode ilmiah mempunyai hubungan yang dekat sekali, jika tidak dikatakan sama. Dengan adanya metode ilmiah, pertanyaan-pertanyaan dalam mencari dalil umum akan mudah terjawab, seperti menjawab seberapa jauh, mengapa begitu, apakah benar, dan sebagainya.

Menurut Almadk (1939),” metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran. Sedangkan Ostle (1975) berpendapat bahwa metode ilmiah adalah pengejaran terhadap sesuatu untuk memperoleh sesuatu interelasi.” Jadi pengertian metode ilmiah adalah suatu usaha untuk menemukan hal menurut metode yang ilmiah.

Ilmiah harus memiliki kebenaran yang dapat dilihat dari sisi bahwa ia sesuai dengan fakta dan aturan, obyektif, masuk akal dan memiliki asumsi-asumsi. Oleh karena kebenaran ilmiah harus sesuai dengan aturan, maka berarti harus memiliki metode. Metode Ilmiah atau sering hanya ditulis metode, metoda atau methode dapat diartikan sebagai suatu cara atau jalan pengaturan atau pemeriksaan sesuatu. Ia bersifat empiris, artinya keputusan-keputusan diambil berdasarkan data empiris (pengalaman yang benar). Oleh karena metode itupun harus benar maka ada ilmu yang mempelajari tentang metode, yang untuk metode riset ilmunya disebut Metodologi Riset.

Tujuan metode ilmiah adalah  :
•    Mendapatkan pengetahuan ilmiah (yang rasional, yang teruji) sehingga
merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan.
•    Merupakan suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis.
•    Untuk mencari ilmu pengetahuan yang dimulai dari penentuan masalah, pengumpulan data yang relevan, analisis data dan interpretasi temuan, diakhiri dengan penarikan kesimpulan.

Sifat Metode Ilmiah
1.Efisien dalam penggunaan sumber daya (tenaga, biaya, waktu).
2.Terbuka (dapat dipakai oleh siapa saja).
3.Teruji (prosedurnya logis dalam memperoleh keputusan).

KRITERIA METODE ILMIAH
Supaya suatu metode yang digunakan dalam penelitian disebut metode ilmiah, maka metode tersebut harus mempunyai kriteria sebagai berikut:
1. Berdasarkan fakta.
2. Bebas dari prasangka
3. Menggunakan prinsip-prinsip analisa.
4. Menggunakan hipotesa
5. Menggunakah ukuran objektif.
Menggunakan teknik kuantifikasi

Unsur utama metode ilmiah adalah pengulangan empat langkah berikut:
1.    Karakterisasi (pengamatan dan pengukuran)
2.    Hipotesis (penjelasan teoretis yang merupakan dugaan atas hasil pengamatan dan pengukuran)
3.    Prediksi (deduksi logis dari hipotesis)
4.    Eksperimen (pengujian atas semua hal di atas)

a). Karakterisasi
Metode ilmiah bergantung pada karakterisasi yang cermat atas subjek investigasi. Dalam proses karakterisasi, ilmuwan mengidentifikasi sifat-sifat utama yang relevan yang dimiliki oleh subjek yang diteliti. Selain itu, proses ini juga dapat melibatkan proses penentuan (definisi) dan pengamatan; pengamatan yang dimaksud seringkali memerlukan pengukuran dan/atau perhitungan yang cermat.

Umumnya terdapat empat karakteristik penelitian ilmiah :

1.Sistematis
Berarti suatu penelitian harus disusun dan dilaksanakan secara berurutan sesuai pola dan kaidah yang benar, dari yang mudah dan sederhana sampai yang kompleks.

2. Logis
Suatu penelitian dikatakan benar bila dapat diterima akal dan berdasarkan fakta empirik. Pencarian kebenaran harus berlangsung menurut prosedur atau kaidah bekerjanya akal yaitu logika. Prosedur penalaran yang dipakai bisa dengan prosedur induktif yaitu cara berpikir untuk menarik kesimpulan umum dari berbagai kasus individual (khusus), atau prosedur deduktif yaitu cara berpikir untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus dari pernyataan yang bersifat umum.

3. Empirik
Artinya suatu penelitian yang didasarkan pada pengalaman sehari-hari, yang ditemukan atau melalui hasil coba-coba yang kemudian diangkat sebagai hasil penelitian. Landasan empirik ada tiga yaitu :
•    Hal-hal empirik selalu memiliki persamaan dan perbedaan (ada penggolongan atau perbandingan satu sama lain).
•    Hal-hal empirik selalu berubah-ubah sesuai dengan waktu.
•    Hal-hal empirik tidak bisa secara kebetulan,melainkan ada penyebabnya.

4. Replikatif
Artinya suatu penelitian yang pernah dilakukan harus di uji kembali oleh peneliti lain dan harus memberikan hasil yang sama bila dilakukan dengan metode, kriteria, dan kondisi yang sama. Agar bersifat replikatif, penyusunan definisi operasional variable menjadi langkah penting bagi seorang peneliti.

Karakteristik lain dalam metode ilmiah yaitu sebagai berikut :
  • Bersifat kritis, analistis, artinya metode menunjukkan adanya proses yang tepat untuk mengidentifikasi masalah dan menentukan metode untuk pemecahan masalah.
  • Bersifat logis, artinya dapat memberikan argumentasi ilmiah. Kesimpulan yang dibuat secara rasional berdasarkan bukti-bukti yang tersedia.
  • Bersifat obyektif, artinya dapat dicontoh oleh ilmuwan lain dalam studi yang sama dengan kondisi yang sama pula.
  • Bersifat konseptual, artinya proses penelitian dijalankan dengan pengembangan konsep dan teori agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
  • Bersifat empiris, artinya metode yang dipakai didasarkan pada fakta di lapangan.
b).Prediksi dari hipotesis
Hipotesis yang berguna akan memungkinkan prediksi berdasarkan deduksi. Prediksi tersebut mungkin meramalkan hasil suatu eksperimen dalam laboratorium atau pengamatan suatu fenomena di alam. Prediksi tersebut dapat pula bersifat statistik dan hanya berupa probabilitas. Hasil yang diramalkan oleh prediksi tersebut haruslah belum diketahui kebenarannya
Jika hasil yang diramalkan sudah diketahui, hal itu disebut konsekuensi dan seharusnya sudah diperhitungkan saat membuat hipotesis. Jika prediksi tersebut tidak dapat diamati, hipotesis yang mendasari prediksi tersebut belumlah berguna bagi metode bersangkutan dan harus menunggu metode yang mungkin akan datang. Sebagai contoh, teknologi atau teori baru boleh jadi memungkinkan eksperimen untuk dapat dilakukan.

c). Eksperimen
Setelah prediksi dibuat, hasilnya dapat diuji dengan eksperimen. Jika hasil eksperimen bertentangan dengan prediksi, maka hipotesis yang sedak diuji tidaklah benar atau tidak lengkap dan membutuhkan perbaikan atau bahkan perlu ditinggalkan. Jika hasil eksperimen sesuai dengan prediksi, maka hipotesis tersebut boleh jadi benar namun masih mungkin salah dan perlu diuji lebih lanjut.
Eksperimen tersebut dapat berupa eksperimen klasik di dalam laboratorium atau ekskavasi arkeologis.Pencatatan juga akan membantu dalam reproduksi eksperimen.

Langkah-langkah dalam metode ilmiah

Schluter (1926) memberikan 15 langkah dalam melaksanakan penelitian dengan metode ilmiah. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Pemilihan bidang, topik atau judul penelitian.
  2. Mengadakan survei lapangan untuk merumuskan masalah-malalah yang ingin dipecahkan.
  3. Membangun sebuah bibliografi.
  4. Memformulasikan dan mendefinisikan masalah.
  5. Membeda-bedakan dan membuat out-line dari unsur-unsur permasalahan.
  6. Mengklasifikasikan unsur-unsur dalam masalah menurut hu-bungannya dengan data atau bukti, baik langsung ataupun tidak langsung.
  7. Menentukan data atau bukti mana yang dikehendaki sesuai dengan pokok-pokok dasar dalam masalah.
  8. Menentukan apakah data atau bukti yang dipertukan tersedia atau tidak.
  9. Menguji untuk diketahui apakah masalah dapat dipecahkan atau tidak.
  10. Mengumpulkan data dan keterangan yang diperlukan.
  11. Mengatur data secara sistematis untuk dianalisa.
  12. Menganalisa data dan bukti yang diperoleh untuk membuat interpretasi.
  13. Mengatur data untuk persentase dan penampilan.
  14. Menggunakan citasi, referensi dan footnote (catatan kaki).
  15. Menulis laporan penelitian.
Dalain melaksanakan penelitian secara ilmiah. Abclson (1933) mcmberikan langkah-langkah berikut
1. Tentukan judul. Judul dinyatakan secara singkat.
2. Pemilihan masalah. Dalam pemilihan ini harus:
  • Nyatakan apa yang disarankan oleh judul.  
  • Berikan alasan terhadap pemilihan tersebut. Nyatakan perlunya  diselidiki masalah menurut kepentingan umum.
  • Sebutkan ruang lingkup penelitian. Secara singkat jelaskan materi. situasi dan hal-hal lain yang menyangkut bidang yang akan diteliti. 
3. Pemecahan masalah. Dalain niemecahkan masalah harus diikuti hal-hal berikut:
  • Analisa harus logis, aturlah bukti dalam bnntuk yang sistematis dan logis. Demikian juga halnya unsur-unsur yang dapat memecahkan masalah.
  • Proscdur penelitian yang digunakan harus dinyatakan secara singkat.
  • Urutkan data, fakta dan keterangan-keterangan khas yang diperlukan.
  • Harus dinyatakan bagaimana set dari data diperoleh termasuk referensi yang digunakan.
  • Tunjukkan cara data dilola sampai mempunyai arti dalam memecahkan masalah.
  • Urutkan asumsi-asumsi yang digunakan serta luibungannya dalam berbagai fase penelitian.
4.Kesimpulan
  • Berikan kesimpulan dari hipotesa. nyatakan dua atau tiga kesimpulan yang mungkin diperoleh
  • Berikan implikasi dari kesimpulan. Jelaskan bebernpa implikasi dari produk hipotesa dengan memberikan beberapa inferensi.
5. Berikan studi-studi sebelumnya yang pernah dikerjakan yang berhubungan dengan masalah.
Nyalakan kerja-kerja sebelumnya secara singkat dan berikan referensi bibliografi yang mungkin ada manfaatnya scbagai model dalam memecahkan masalah. Dari pedoman beberapn ahli di atas, maka dapal disimpulkan balnwa penelitian dengan mcnggunakan metode ilmiah sckurang-kurangnya dilakukan dengan langkah-langkah berikut:

5.1. Merumuskan serta mcndefinisikan masalah
langkah pertama dalam meneliti adalah menetapkan masalah yang akan dipecahkan. Untuk menghilangkan keragu-raguan. masalah tersebut didefinisikan secara jelas. Sampai ke mana luas masalah yang akan dipecahkan Sebutkan beberapa kata kunci (key words) yang terdapal dalam masalah Misalnya. masalah yang dipilih adalah Bagaimana pengaruh mekanisasi terhadap pendapatan usaha tani di Aceh?
Berikan definisi tentang usaha tani, tentang mekanisasi, pada musim apa. dan sebagainya

5.2. Mengadakan studi kepustakaan
Setelah masalah dirumuskan, step kedua yang dilakukan dalam mencari data yang tersedia yang pernah ditulis peneliti sebelumnya yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan. Kerja mencari bahan di perpustakaan merupakan hal yang tak dapat dihindarkan olch seorang peneliti. Ada kalanya. perumusan masalah dan studi keputusan dapat dikerjakan secara bersamaan.

5.3. Memformulasikan hipotesa
Setelah diperoleh infonnasi mengenai hasil penelitian ahli lain yang ada sangkut-pautnya dengan masalah yang ingin dipecahkan. maka tiba saatnya peneliti memformulasikan hipotesa-hipolesa unttik penelitian. Hipotesa tidak lain dari kesimpulan sementara tentang hubunggan sangkut-paut antarvariabel atau fenomena dalam penelitian. Hipotesa merupakan kesimpulan tentatif yang diterima secara sementara sebelum diuji.

5.4. Menentukan model untuk menguji hipotesa
Setelah hipotesa-hipotesa ditetapkan. kerja selanjutnya adalah merumuskan cara-cara untuk menguji hipotesa tersebut. Pada ilmu-ilmu sosial yang telah lebih berkembang. scperti ilmu ekonomi misalnva. pcnguji’an hipotesa didasarkan pada kerangka analisa (analytical framework) yang telah ditetapkan. Model matematis dapat juga dibuat untuk mengrefleksikan hubungan antarfenomena yang secara implisif terdapal dalam hipotesa. untuk diuji dengan teknik statistik yang tersedia.
Pcngujian hipotesa menghendaki data yang dikumpulkan untuk keperluan tersebut. Data tersebut bisa saja data prime ataupun data sekunder yang akan dikumpulkan oleh peneliti.

5.5. Mengumpulkan data
Peneliti memerlukan data untuk menguji hipotesa. Data tersebut yang merupakan fakta yang digunakan untuk menguji hipotesa perlu dikumpulkan. Bcrgantung dan masalah yang dipilih serta metode pcnelitian yang akan digunakan. teknik pengumpulan data akan berbeda-beda. Jika penelitian menggunakan metode percobaan. misalnya. data diperoleh dan plot-plot pcrcobaan yang dibual sendiri oleh peneliti Pada metodc scjarah ataupun survei normal, data diperoleh dengan mcngajukan pertanyaan-pertanyaan kepada responden. baik secara langsung ataupun dengan menggunakan questioner Ada kalanya data adalah hasil pengamatan langsung terhadap perilaku manusia di mana peneliti secara partisipatif berada dalam kelompok orang-orang yang diselidikinya.

5.6. Menyusun, Menganalisa, and Menyusun interfensi
Setelah data terkumpul. pcneliti menyusun data untuk mengadakan analisa Sebelum analisa dilakukan. data tersebul disusun lebih dahulu untuk mempermudah analisa. Penyusunan data dapat dalam bentuk label ataupun membuat coding untuk analisa dengan komputer. Sesudah data dianalisa. maka perlu diberikan tafsiran atau interpretasi terhadap data tersebut.

5.7. Membuat generalisasi dan kesimpulan
Setelah tafsiran diberikan, maka peneliti membuat generalisasi dari penemuan-penemuan, dan selanjutnya memberikan beberapa kesimpulan. Kesimpulan dan generalisasi ini harus berkaitan dengan hipotesa. Apakah hipotesa benar untuk diterima. ataukah hiporesa tersebut ditolak.

5.8. Membuat laporan ilmiah
Langkah terakhir dari suatu penelitian ilmiah adalah membuat laporan ilmiah tentang hasil-hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut. Penulisan secara ilmiah mempunyai teknik tersendiri.

Sumber :
Husein Umar. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Umum, 2003
http://dossuwanda.wordpress.com/2008/03/29/apakah-yang-dimaksud-dengan-metode-ilmiah/
http://bio-nikith.blogspot.com/2012/05/metode-metode-ilmiah.htmlhttp://bloggueblog.wordpress.com/2012/04/27/pengertian-metode-ilmiah/

Senin, 01 April 2013

KARYA TULIS

A.  KARYA TULIS ILMIAH

Secara umum, suatu karya ilmiah dapat diartikan sebagai suatu hasil karya yang dipandang memiliki kadar ilmiah tertentu serta dapat dipertanggungjawabkan dalam bentuk karangan atau tulisan ilmiah, dapat pula disampaikan secara lisan dalam bentuk pidato atau orasi ilmiah, dan dapat melalui suatu bentuk demonstrasi. Dengan demikian, karangan atau tulisan ilmiah adalah semua bentuk karangan yang memiliki kadar ilmiah tertentu sesuai dengan bidang keilmuannya (sains, teknologi, ekonomi, pendidikan, bahasa dan sastra, kesehatan, dan lain- lain).

Karya tulis ilmiah dikemukakan berdasarkan pemikiran, kesimpulan, serta pendapat/pendirian penulis yang dirumuskan setelah mengumpulkan dan mengolah berbagai informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber, baik teoretik maupun empirik. Karya ilmiah senantiasa bertolak dari kebenaran ilmiah dalam bidang ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan permasalahan yang disajikan. Titik tolak ini merupakan sumber kerangka berpikir (paradigma, meminjam istilah Thomas Kuhn), dalam mengumpulkan informasi-informasi secara empirik.

CIRI-CIRI KARYA ILMIAH:    
Perbedaan antara karangan ilmu pengetahuan yang ilmiah dan non-ilmiah itu dapat dilihat melalui ciri-cirinya. Secara ringkas ciri-ciri karangan ilmu pengetahuan yang ilmiah adalah sebagai berikut :
1)      Menyajikan fakta yang obyektif secara sistematis atau menyajikan aplikasi hukum alam pada situasi spesifik.
2)      Penulisan cermat, tepat, dan benar serta tulus tanpa mengingat efektifnya.
3)      Tidak mengejar keuntungan pribadi, yaitu tidak berambisi agar pembaca berpihak padanya. Motivasi penulis hanya untuk memberitahukan tentang sesuatu. Penulis ilmiah tidak ambisius dan tidak berprasangka.
4)      Karangan ilmiah itu tidak emotif dan tidak menonjolkan perasaan, karangan ilmiah menyajikan sebab-musabab dan pengertian, kata-katanya mudah diidentifikasi, alasan-alasan yang dikemukakan indusif, mendorong untuk menarik kesimpulan tidak terlalu tinggi, dan bukan ajakan.
5)      Karangan yang ilmiah itu sistematis, tiap langkah direncanakan secara sistematis,  terkendali, konseptual dan prosedural.
6)      Tidak memuat pandangan-pandangan tanpa pendukung kecuali dalam hipotesis kerja.
7)      Ditulis secara tulus dan memuat kebenaran serta tidak memancing pertanyaan-pertanyaan yang bernada keraguan.
8)      Karangan yang ilmiah itu tidak persuasif. Tujuan karangan yang ilmiah itu benar-benar untuk mendorong pembaca merubah pendapat tetapi tidak melalui ajakan, argumentasi, sanggahan atau protes tapi membiarkan fakata  berbicara sendiri.
9)      Karangan yang ilmiah itu tidak melebih-lebihkan  sesuatu. Dalam karya ilmiah hanya disajikan kebenaran fakta, oleh sebab itu memutarbalikkan fakta akan menghancurkan tujuan penulisan karangan ilmiah. Melebih-lebihkan sesuatu itu umumnya disebabkan oleh motif mementingkan diri sendiri.
Jadi, karangan yang tidak memiliki beberapa ciri diatas bisa dibilang dengan karangan non-ilmiah.

Dalam penulisan karya ilmiah ada beberapa sikap yang perlu dimiliki oleh seorang penulis yaitu :
•    Sikap terbuka 
Sikap terbuka yang dimiliki seorang penulis yaitu mau mendengarkan pendapat, argumentasi, kritik, dan keterangan orang lain, walaupun pada akhirnya pendapat, argumentasi, kritik, dan keterangan orang lain tersebut tidak diterima karena tidak sepaham atau tidak sesuai.
•    Sikap berani mempertahankan kebenaran
Sikap ini menampak pada ketegaran membela fakta dan hasil temuan lapangan atau pengembangan walapun bertentangan atau tidak sesuai dengan teori atau dalil yang ada.
•    Sikap menjangkau ke depan 
Sikap ini dibuktikan dengan selalu ingin membuktikan hipotesis yang disusunnya demi pengembangan bidang ilmunya.
•    Sikap objektif
Sikap objektif ini terlihat pada kebiasaan menyatakan apa adanya, tanpa diikuti perasaan pribadi.
•    Sikap rela menghargai karya orang lain
Sikap menghargai karya orang lain ini terlihat pada kebiasaan menyebutkan sumber secara jelas sekiranya pernyataan atau pendapat yang disampaikan memang berasal dari pernyataan atau pendapat orang lain.
•    Sikap ingin tahu
Sikap ingin tahu ini terlihat pada kebiasaan bertanya tentang berbagai hal yang berkaitan dengan bidang kajiannya.
•    Sikap kritis
 Sikap kritis ini terlihat pada kebiasaan mencari informasi sebanyak mungkin berkaitan dengan bidang kajiannya untuk dibanding-banding kelebihan-kekurangannya, kecocokan-tidaknya, kebenaran-tidaknya, dan sebagainya.

MACAM-MACAM KARYA ILMIAH :
•    Skripsi
Skripsi adalah karya ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa program Sarjana (SI) sebagai persyaratan untuk menyelesaikan program studi yang ditempuhnya.
•    Tesis
Tesis  adalah karya ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa program Sarjana (S2)
Sebagai persyaratan untuk menyelesaikan program studi yang ditempuhnya.
•    Disertasi
Disertasi  adalah karya ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa program Sarjana (S3) Sebagai persyaratan untuk menyelesaikan program studi yang ditempuhnya.
Secara umum, perbedaan antara skripsi, tesis, dan disertasi dapat dilihat dari 2 aspek yaitu aspek kuantitatif dan aspek kualitatif. Dari aspek kuantitatif, secara literal dapat dikatakan bahwa disertasi lebih berat bobot akademisnya daripada tesis dan tesis lebih berta bobot akademisnya daripada skripsi.
•    Artikel ilmiah
Artikel ilmiah adalah karya tulis yang dirancang untuk dimuat dalam jurnal atau buku kumpulan artikel yang ditulis dengan tata cara ilmiah dan mengikuti pedoman ataupun konvensi ilmiah yang telah disepakati atau ditetapkan. Artikel ilmiah dapat diangkat dari penelitian lapangan, hasil pemikiran dan kajian pustaka, atau hasil pengembangan proyek.
Dari segi sistematika penulisan dan isinya, artikel dapat dikelompokkan menjadi 2 macam, yaitu :
1)      Artikel penelitian adalah hasil-hasil penelitian yang ditulis dalam bentuk artikel untuk kemudian diterbitkan dalam jurnal-jurnal. Artikel ini mempunyai kelebihan dibanding dengan tulisan yang ditulis dalam bentuk laporan teknis resmi
2)      Artikel non-penelitian adalah semua  jenis artikel ilmiah yang bukan merupakan laporan hasil penelitian. Yang termasuk artikel non-penelitian antara lain berupa artikel yang menelaah suatu teori konsep atau prinsip mengembangkan suatu model, mendeskripsikan fakta atau fenomena tertentu, menilai suatu produk, dan masih banyak jenis yang lain.
•    Makalah
Makalah adalah karya tulis yang memuat pemikiran tentang suatu masalah atau topik tertentu yang ditulis secara sistematis dan runtut dengan disertai analisis yang logis dan obyektif. Makalah ditulis untuk memenuhi tugas terstruktur yang diberikan oleh dosen atau ditulis atas inisiatif sendiri untuk disajikan dalam forum ilmiah.
•    Proposal
Proposal adalah usulan penelitian yang disusun sebelum melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui kualitas penelitian atau kegiatan yang akan dilakukan. Proposal ditulis secara sistematis, berencana, dan mengikuti konsep ilmiah yang sudah ditentukan. Jenis-jenis proposal antara lain adalah :
ü  Proposal kegiatan
ü  Proposal skripsi
ü  Proposal penelitian

Adapun manfaat dari penulisan karya ilmiah adalah sebagai berikut :
1. Melatih berpikir tertib dan teratur karena menulis ilmiah harus mengikuti tata cara penulisan yang   sudah ditentukan prosedur tertentu, metode dan teknik, aturan / kaidah standar, disajikan teratur, runtun dan tertib.
2. Menulis ilmiah memerlukan literatur, buku-buku ilmiah, kamus, ensiklopedia yang disusun tertib.
3. Pada hakikatnya sebuah karangan ilmiah yaitu laporan tentang suatu kebenaran yang diperoleh dari hasil suatu penelitian.
4. Dalam karya ilmiah ada organ yang disebut bab pembahasan yang berfungsi menganalisis, memecahkan dan menjawab setiap permasalahan sampai tuntas hingga ditemukan sebuah jawaban.
5. Karena didalam karya ilmiah ada organ yang disebut bab landasan teori atau kerangka teoritis yang berfungsi memaparkan teori – teori para ahli serta mengomentari atau mengkritiknya untuk memperkuat argumen penulis.
6. Bahasa yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah harus jelas atau harus bermakna tunggal tidak boleh ambigu), penempatan gatra ( unsure fungsional dalam kalimat harus lengkap dan tepat) dan diksi atau pilihan kata harus tepat.

SISTEMATIKA PENULISAN KARYA ILMIAH
Penelitian ini disusun dalam 5 bab dengan perincian sebagai berikut :
•    Bab I : Pendahuluan
Bab ini menguraikan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
•    Bab II : Telaah Pustaka
Bab ini menguraikan mengenai teori-teori yang melandasi penelitian ini termasuk penelitian terdahulu didalamnya, hipotesis, dan model penelitian yang digunakan.
•    Bab III : Metode Penelitian
Bab ini menguraikan variabel-variabel penelitian dan definisi operasional variabel, populasi, dan sampel yang digunakan, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data, serta metode analisis yang digunakan.
•    Bab IV : Hasil dan analisis
Bab ini menguraikan deskripsi objek penelitian yang berisi profil perusahaan dan hasil dari penelitian serta pembahasannya.
•    Bab V : Penutup
Bab ini menguraikan kesimpulan yang didapat dari penelitian, keterbatasan, serta saran.

B.  KARYA TULIS NON ILMIAH
Karya tulis non-ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, tidak didukung fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang popular atau biasa digunakan (tidak terlalu formal).
Karya tulis non-ilmiah itu pun bervariasi bahan topiknya dan cara penyajiannya, tetapi isinya tidak didukung oleh fakta umum. Bahasanya mungkin kongkret atau abstrak, gaya bahasanya mungkin formal dan teknis, atau formal dan populer.

Ciri-ciri karya tulis non-ilmiah
•    ditulis berdasarkan fakta pribadi,
•    fakta yang disimpulkan subyektif,
•    gaya bahasa konotatif dan populer,
•    tidak memuat hipotesis,
•    penyajian dibarengi dengan sejarah,
•    bersifat imajinatif,
•    situasi didramatisir,
•    bersifat persuasif.
•    tanpa dukungan bukti

Sifat karya non ilmiah:

1. Emotif, lebih merupakan refleksi dari sebuah perasaan yang terkadang melampui kebenaran,
2. Persuasif, yaitu bersifat mempengaruhi pikiran pembaca,
3. Deskriftif subjektif, dalam arti tidak didukung oleh data dan fakta, dan
4.Terkadang over claiming. Karya-karya non ilmiah ini terutama dapat dilihat dalam bentuk
    karya-karya seni, seperti  cerpen, novel, puisi, komik dan lain-lain yang semisalnya.


C. KARYA TULIS SEMI ILMIAH

Adalah sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan dan penulisannya
pun dengan bahasa konkret, gaya bahasa formal, dan didukung dengan fakta umum yang dapat
dibuktikan benar atau tidaknya atau sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi
dalam suatu tulisan dan penulisannya tidak semiformal tetapi tidak sepenuhnya mengikuti
metode ilmiah yang sintesis-analitis karena sering dimasukkan karangan non-ilmiah. Maksud
dari karangan non-ilmiah tersebut ialah karena jenis Semi Ilmiah memang masih banyak
digunakan misal dalam komik, aneka dongeng, hikayat, novel, roman dan cerpen.

Ciri-ciri karangan Semi Ilmiah antara lain adalah :
•    Ditulis berdasarkan fakta pribadi
•    Fakta yang disimpulkan subyekti
•    Gaya bahasa formal dan popular
•    Mementingkan diri penulis
•    Melebihkan-lebihkan sesuatu
•    Usulan-usulan bersifat argumentatif, dan
•    Bersifat persuasif.   



REFERENSI :
http://dwimarlenipratiwi.blogspot.com/2010/03/definisi-mengenai-karya-ilmiah.html
http://sugikmaut.blog.com/?p=15
http://nindiyahpuspitasari.blogspot.com/2011/02/karya-ilmiah-dan-non-ilmiah-ciri.html
http://variedzzz.wordpress.com/2011/05/10/karya-ilmiah/
http://newcyber18.blogspot.com/2012/11/karya-non-ilmiah.html
http://sellyinthewords.blogspot.com/2012/03/perbedaan-karangan-ilmiah-semi-ilmiah.html


Selasa, 26 Maret 2013

PENALARAN DEDUKTIF

Penalaran Deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pembentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala.

Contoh klasik dari penalaran deduktif, yang diberikan oleh Aristoteles, ialah :
  • Semua manusia fana (pasti akan mati). -> premis mayor 
  •  Sokrates adalah manusia. -> premis minor
  •  Sokrates pasti (akan) mati. -> kesimpulan 
Faktor - faktor penalaran deduktif : 

1. Pembentukan Teori
2. Hipotesis
3. Definisi Operasional
4. Instrumen
5. Operasionalisasi

 Macam-Macam Silogisme di dalam Penalaran Deduktif

 Di dalam penalaran deduktif terdapat entimen macam silogisme, yaitu silogisme kategorial, silogisme hipotesis, silogisme alternatif dan silogisme entimen.

A.  Silogisme Kategorial 

Silogisme kategorial disusun berdasarkan klasifikasi premis dan kesimpulan yang kategoris. Premis yang mengandung predikat dalam kesimpulan disebut premis mayor, sedangkan premis yang mengandung subjek dalam kesimpulan disebut premis minor. Silogisme kategorial terjadi dari tiga proposisi, yaitu: Premis umum : Premis Mayor (My) Premis khusus remis Minor (Mn) Premis simpulan : Premis Kesimpulan (K) Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term mayor, dan predikat simpulan disebut term minor.

Contoh silogisme Kategorial:
My  : Semua mahasiswa adalah lulusan SLTA
Mn  : Badu adalah mahasiswa
K     : Badu lulusan SLTA

Silogisme kategorial dapat dibedakan menjadi dua saja, yaitu silogisme kategorial dan silogisme tersusun. Dimana silogisme tersusun terbagi lagi menjadi tiga kategorial yaitu:
  • Epikherema Epikherema 
adalah jabaran dari silogisme kategorial yang diperluas dengan jalan memperluas salah satu premisnya atau keduanya. Cara yang biasa digunakan adalah dengan menambahkan keterangan sebab: penjelasan sebab terjadinya, keterangan waktu, maupun poembuktian keberadaannya.

Contoh: Semua pahlawan bersifat mulia sebab mereka selalu memperjuangkan hak miliki bersama dengan menomorduakan kepentingan pribadinya. Sultan Mahmud Badaruddin adalah pahlawan. Jadi, Sultan Mahmud Badaruddin itu mulia.
  • Entimem 
    Silogisme ini merupakan jenis silogisme yang sama dengan pada penjelasan di atas.
  • Sorites 
Silogisme tipe ini sangat cocok untuk bentuk-bentuk tulisan atau pembicaraan yang bernuansa persuasif. Silogisme tipe ini didukung oleh lebih dari tiga premis, bergantung pada topik yang dikemukakan serta arah pembahasan yang dihubung-hubungkan demikian rupa sehingga predikat premis pertama menjadi subyek premis kedua, predikat premis kedua menjadi subyek pada premis ketiga, predikat premis kedua menjadi subyek pada premis keempat, dan seterusnya, hingga akhirnya sampailah pada kesimpulan yang diambil dari subyek premis pertama dan predikat premis terakhir.

B.  Silogisme Hipotesis

Silogisme Hipotesis terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis. Konditional hipotesis yaitu bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Bila minornya menolak anteseden, simpulannya juga menolak konsekuen. Contoh : Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa, maka kegelisahan akan timbul.Politik pemerintahan tidak dilaksanakan dengan paksa,Jadi kegelisahan tidak akan timbul.

 C.  Silogisme Alternatif

       Bentuk Silogisme Alterantif :
  • Memiliki premis mayor dan premis minor.
  • Premis mayor menggunakan ungkapan alternatif.
  • Premis minor menolak salah satu pilihan.
  • Memiliki satu konklusi.
                    Misal :               Premis mayor : A atau B
               Premis minor : Bukan A
               Konklusi : B

               Premis mayor : A atau B
               Premis minor : Bukan B
               Konklusi : A

D.  Silogisme Entimen

Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.
Contoh:
- Dia menerima hadiah pertama karena dia telah menang dalam sayembara itu.
- Anda telah memenangkan sayembara ini, karena itu Anda berhak menerima hadiahnya.



SUMBER :
http://lisarenhoat.blogspot.com/2013/03/penalaran-deduktif-dan-macam-macamnya.html
http://syahrulhavianto.blogspot.com/2012/03/definisi-dan-macam-macam-penalaran_4566.html
http://elfuego10.blogspot.com/2013/03/penalaran-deduktif-dan-macam-macamnya.html

Senin, 18 Maret 2013

PARAGRAF INDUKTIF ( GENERALISASI, ANALOGI, KAUSAL )

Paragraf merupakan bagian dari telaah wacana dalam bahasa Indonesia. Penalaran dalam paragraf sebuah bacaan dapat berpola deduktif dan induktif. Penalaran induktif adalah proses penalaran yang bertolak dari peristiwa yang sifatnya khusus menuju pertanyaan umum. Paragraf Induktif : paragraf yang dimulai dengan menyebutkan peristiwa-peristiwa yang khusus, untuk menuju kepada kesimpulan umum, yang mencakup semua peristiwa khusus di atas.















 Ciri-Ciri Paragraf Induktif

•    Terlebih dahulu menyebutkan peristiwa-peristiwa khusus
•    Kemudian, menarik kesimpulan berdasarkan peristiwa-peristiwa khusus
•    Kesimpulan terdapat di akhir paragraf
•    Menemukan Kalimat Utama, Gagasan Utama, Kalimat Penjelas
•    Kalimat utama paragraf induktif terletak di akhir paragraf
•    Gagasan Utama terdapat pada kalimat utama
•    Kalimat penjelas terletak sebelum kalimat utama, yakni yang mengungkapkan peristiwa-peristiwa khusus
•    Kalimat penjelas merupakan kalimat yang mendukung gagasan utama

Beberapa Contoh Paragraf Induktif

1.    Sejak suaminya meninggal dunia dua tahun yang lalu, Ny. Ahmad sering sakit. Setiap bulan ia pergi ke dokter memeriksa sakitnya. Harta peninggalan suaminya semakin menipis untuk membeli obat dan biaya pemeriksaan, serta untuk biaya hidup sehari-hari bersama tiga orang anaknya yang masih sekolah. Anak yang tetua dan adiknya masih kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta, sedangkan yang nomor tiga masih duduk di bangku SMA. Sungguh berat beban hidupnya.
Gagasan utama paragraf tersebut terdapat diakhir paragraf (Induktif), yaitu Sungguh berat beban hidupnya.

2.    Di era zaman globalisasi ini, banyak orang yang memiliki sepeda motor. Itu disebabkan, karena sekarang mereka bisa memiliki sepeda motor dengan cepat dan mudah. Agar tidak datang terlambat, banyak orang yang berangkat bekerja dengan mengendarai sepeda motor. Bahkan anak sekolah pun tidak mau kalah. Mereka berangkat ke sekolah memilih mengendarai sepeda motor. Dari pada naik sepeda biasa ataupun angkutan umum. Begitu juga dengan ibu-ibu. Untuk pergi ke pasar saja, mereka menggunakan sepeda motor. Hal ini menunjukkan bahwa sekarang sepeda motor dianggap sebagai barang yang sangatlah penting dalam kehidupan sehari-hari.
Gagasan utama paragraf tersebut terdapat diakhir paragraf (Induktif), yaitu sepeda motor dianggap sebagai barang yang sangatlah penting dalam kehidupan sehari-hari.

Paragraf Induktif Generalisasi

Generalisasi adalah penalaran induktif dengan cara menarik kesimpulan secara umum berdasarkan sejumlah data. Jumlah data atau peristiwa khusus yang dikemukakan harus cukup dan dapat mewakili.

Contoh:
1.    Kenaikan BBM baru-naru ini tekah menyebabkan harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi. Para pengguna angkutan umum harus membayar dua kali lipatbesarnya dari sebelum adanya kenaikan BBM. langkanya BBM membuatmasyarakat resah dan panik..

2.    Untuk mendapatkan komputer dengan kinerja yang memuaskan, kita wajib membeli hardware dan meng-upgrade software dengan baik. Bukan hanya itu saja, semua komponen komputer haruslah dirawat dengan baik agar tidak terjadi kerusakan. Dan pemakaian komputer haruslah baik, mulai dari penataan cahaya, suhu udara dan lama komputer dalam keadaan aktif. Jangan sampai komputer dalam keadaan menyala, tetapi tidak diakses. Jadi, untuk mendapatkan kinerja maksimal, memuaskan dan awet kita harus benar-benar memperhatikan komputer kita.

3.    Saya melihat orang-orang asyik membaca koran di halte bus. Kegiatan serupa juga saya jumpai di peron stasiun kereta api. Saat saya jalan-jalan di taman hal yang sama juga saya lihat orang duduk bersantai sambil membaca koran. Bahkan, ketika saya keluar ruang dan sampai di trotoar, saya melihat berderet anak sekolah, kawula muda, dan orang dewasa semua sedang membaca. Jadi, banyak orang yang memanfaatkan waktu untuk membaca.

Paragraf Induktif Analogi

Analogi adalah penalaran dengan cara membandingkan dua hal yang banyak menandung persamaan. Dengan kesamaan tersebut dapatlah ditarik kesimpulannya. Paragraf analogi ini merupakan bagian paragraf induktif.

Contoh:
Peternakan merupakan aspek perekonomian yang penting dan menjanjikan. Selain dapat menjadi lahan pendapatan, peternakan juga memiliki dampak positif meningkatkan gizi masyarakat. Pengembangan peternakan dapat memenuhi kebutuhan daging warga sehingga negara tidak perlu mengimpor daging dari luar. Pertanian juga merupakan aspek perekonomian yang penting. Pengembangan pertanian dapat memenuhi kebutuhan beras warga sehingga impor dari luar tidak diperlukan.

Paragraf Induktif Kausal (Sebab Akibat)

Hubungan kausal adalah proses penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan. Hubungan kausal ada tiga jenis, yaitu sebagai berikut:
•    Sebab – Akibat. Sebab – akibat ini berpola A menyebabkan B.
•    Akibat – Sebab. Akibat – sebab ini berpola Akibat dari B
•    Akibat–Akibat. Akibat–akibat merupakan penalaran yang menyiratkan penyebabnya, Peristiwa akibat langsung disimpulkan pada akibat yang lain.

Contoh :
1.    Kemarau tahun ini cukup panjang. Sebelumnya, pohon-pohon di hutan sebagi penyerap air banyak yang ditebang. Di samping itu, irigasi di desa ini tidak lancar. Ditambah lagi dengan harga pupuk yang semakin mahal dan kurangnya pengetahuan para petani dalam menggarap lahan pertaniannya. Oleh karena itu, tidak mengherankan panen di desa ini selalu gagal.

2.    Bencana banjir lumpur akibat jebolnya tanggul Sumur Urip di Semarang Selatan menimbulkan berbagai macam penyakit. Beberapa penyakit yang akan timbul sesudah bencana adalah diare, tifus, dan demam berdarah. Masalah kesehatan pada korban dan masyarakat di sekitar lokasi bencana harus diantisipasi. Beberapa penyakit itu muncul karena lingkungan kotor dan sumber air bersih tercemar lumpur.

3.    Lima tahun yang lalu hutan bakau di Cilacap dibabat habis-habisan. Lahan bekas hutan bakau itu disulap menjadi tambak-tambak udang windu. Memang, pada waktu itu pengusaha udang windu memperoleh keuntungan besar karena harganya sangat mahal diluar negeri. Akan tetapi,setelah barang dagangan itu tidak laku dipasaran internasional, para pengusaha kembali ke kota, meninggalkan kerusakan lingkungan. Laut tercemar karena hutan bakau yang menyaring limbah yang masuk ke laut tidak ada lagi. Sekarang, puluhan ribu nelayan sulit menghidupi keluarganya karena tak ada ikan yang dapat ditangkap di tepi pantai.

Referensi:
http://www.wayankatel.com/2012/09/pengertian-ciriciri-contoh-paragrafinduktif.html
http://laser-ijo.blogspot.com/2013/03/contoh-pararaf-induktif-sebab-akibat.html
http://jurnalmasbro.wordpress.com/2012/12/12/belajar-mengenal-paragraf-berpola-induktif-generalisasi-analogi-dan-kausal/
http://laser-ijo.blogspot.com/2013/03/contoh-paragraf-induktif-generalisasi.html