Sabtu, 04 Mei 2013

DATA

Pengertian Data

Menurut Husein umar (2003) yang mengutip pendapat Mc. Leod (1995), pengertian data dari sudut ilmu sistem informasi adalah suatu fakta dan angka yang secara relatif tidak berarti bagi pemakai. Sebagai ilustrasi, misalnya jumlah jam kerja karyawan. Saat data ini diproses, ia dapat berubah menjadi informasi misalnya dengan mengalikan jumlah jam kerja dan upah per jam sehingga didapat hasil pendapatan kotor. Jika pendapatan kotor ini dijumlahkan maka penjumlaha ini merupakan total biaya gaji karyawan harian. Jumlah biaya gaji ini dapat dijadikan informasi bagi manajemen. Jadi informasi merupakan data yang telah diolah dan memiliki arti bagi pemakai.

Jenis-Jenis Data
  1. Data Primer, merupakan data yang didapat dari sumber pertama baik dari individu atau perseorangan, seperti hasil wawancara, pengisisan kuesioner, dan observasi.
  2. Data Sekunder, merupakan data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pihak pengumpul data primer atau oleh pihak lain. Data sekunder disajikan antara lain dalam bentuk tabel-tabel atau diagram-digram. Data sekunder ini digunakan oleh peneliti untuk diproses lebih lanjut, misalnya data kinerja perbankan nasional yang dikeluarkan suatu badan riset.
Cara Pengumpulan Data
  1. Observasi, yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan melihat secara langsung di tempat lokasi dan mencatat hal-hal yang dipergunakan dalam perusahaan.
  2. Interview, yaitu dengan mengadakan wawancara langsung dengan pimpinan, staf dan para karyawan untuk memperoleh data-data yang sebenarnya.
  3. Dokumentasi, yaitu pengambilan data secara tertulis atau data yang sudah tersedia di tempat penelitian seperti:
        –    Sejarah singkat perusahaan
        –    Struktur organisasi
        –    Data-data yang berhubungan dengan data penelitian

    4.  Kuesioner, yaitu pengumpulan data dengan menyebarkan daftar pertanyaan pada responden  yang disusun secara  terstruktur, sehingga diperoleh data yang akurat berupa tanggapan langsung responden (karyawan).

Sedangkan untuk pemberian skor skala likert, menurut Sugiyono, (1999:87):
Untuk keperluan analisis kuantitatif, maka jawaban dapat diberi skor, misalnya:
1.    Setuju/selalu/sangat positif diberi skor                                   (5)
2.    Setuju/sering/positif diberi skor                                              (4)
3.    Ragu-ragu/kadang-kadang/netral diberi skor                          (3)
4.    Tidak setuju/hampir tidak pernah/negatif diberi skor             (2)
5.    Sangat tidak setuju/tidak pernah/sangat negatif diberi skor    (1)

Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
 
Sampel merupakan kumpulan obyek atau orang yang mewakili populasi, dalam penelitian. Ada tiga hal pokok penting dalam pengambilan sampel dari populasi, yaitu:
  • Populasi yang terhingga dan yang tidak terhingga.
  • Pengambilan sampel secara probabilitas dan non yang probabilitas.
  • Pengambilan sampel dengan membagi-bagi dulu populasi menjadi beberapa bagian yang disebut subpopulasi sehingga subpopulasi menjadi relatif homogen atau heterogen dan pengambilan sampel langsung dari populasi yang tidak dibagi-bagi dulu menjadi beberapa subpopulasi.
Beberapa teknik dalam pengambilan sampel meliputi :

1).    Pengambilan Sampel Probabilitas/Acak
Adalah suatu metode pemilihan ukuran sampel, dimana setiap anggota populasi mempunyai   peluang yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel, sehingga metode ini sering disebut sebagai prosedur yang terbaik. Ada tiga cara pengambilan sampel dengan metode ini yaitu :
a.    Simple Random Sampling
  • Cara Undian
  • Cara Tabel Bilangan Random
  • Cara Sistematis/Ordinal
b.    Cara Stratifikasi (Stratified Random Sampling)
Adalah populasi yang dianggap heterogen menurut suatu karakteristik tertentu terlebih dahulu dikelompok-kelompokankan dalam beberapa subpopulasi yang memiliki anggota sampel yang relatif homogen.
c.    Cara Kluster (Clustre Sampling)
Cara ini mirip dengan stratifikasi, perbedaannya jika stratifikasi mengakibatkan adanya subpopulasi yang unsur-unsurnya hemogen, sedangkan kluster unsur-unsurnya heterogen.

2).    Pengambilan Sampel Non-probabilitas/Non-acak
Dengan cara ini semua elemen populasi belum tentu memiliki peluang     yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Ada lima cara pengambilan sampel non-acak yaitu :
a.    Cara Keputusan (judgment Sampling)
b.    Cara Kuota (Quota Sampling)
c.    Cara Dipermudah (Convinience Sampling)
d.    Cara Bola Salju (Snowball Sampling)
e.    Are Sampling

3).    Kekeliruan Sampling
4).    Sampel Harus Berdistribusi Normal
Untuk menentukan apakah data sampel berdistribusi normal, ada beberapa cara antara lain dengan:
  • Kurva Normal
  • Kertas Peluang Normal
  • Uji lilliefors
  • Uji Chi Kuadrat
Variabel Penelitian

Sugiyono (1997), menyatakan bahwa variabel di dalam penelitian merupakan suatu atribut dari sekelompok obyek yang diteliti, mempunyai variasi antara satu dan lainnya dalam kelompok tersebut, misalnya tinggi badan dan berat badan yang merupakan atribut dari seseorang yang dalam hal ini adalah obyek penelitiannya.

Variabel mempunyai bermacam-macam bentuk menurut hubungan antara satu variabel dan variabel lainnya, yaitu :
1.    Variabel independent, variabel yang menjadi sebab terjadinya/terpengaruhnya variabel dependent.
2.    Variabel dependent, yaitu variabel yang nilainya dipengaruhi oleh variabel independent
3.    Variabel moderator, yaitu variabel yang memperkuat atau memperlemah hubungan antara variabel dependent dan independent.
4.    Variabel intervening, seperti variabel moderator, tetapi nilainya tidak dapat diukur, seperti kecewa, gembira, sakit hati.
5.    Variabel kontrol, yaitu variabel yang dikendalikan peneliti.
6.    Variable dummy (boneka), yaitu variabel yang isinya berupa kode-kode yang berfungsi untuk membedakan data yang berada pada variabel-variabel tertentu lainnya pada kelompok-kelompoknya. 

Sumber :
Husein Umar. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Umum, 2003

HIPOTESIS

Pengertian Hipotesis

Hipotesis berasal dari bahasa Yunani yaitu hypo yang artinya di bawah dan thesis yang artinya pendirian, pendapat yang ditegakkan, atau kepastian. Jadi hipotesa merupakan sebuah istilah ilmiah yang digunakan dalam rangka kegiatan ilmiah yang mengikuti kaidah-kaidah berfikir biasa, secara sadar, teliti, dan terarah. Dalam penggunaannya sehari-hari hipotesa ini sering juga disebut dengan hipotesis, tidak ada perbedaan makna di dalamnya.

Sedangkan menurut tatabahasa hipotesis berarti suatu pernyataan yang kedudukannya belum sekuat suatu proposisi atau dalil. Menurut pola umum metode ilmiah, setiap penelitian terhadap suatu objek hendaknya di bawah tuntunan suatu hipotesis yang berfungsi sebagai pegangan sementara atau jawaban sementara yang masih harus dibuktikan kebenarannya di dalam kenyataan (empirical verification), percobaan (experimentation) ataupun dalam prakteknya (implementation).

Hipotesis ilmiah mencoba mengutarakan jawaban sementara terhadap masalah yang akan ditelit. Hipotesis menjadi teruji apabila semua gejala yang timbul tidak bertentangan dengan hipotesis tersebut. Dalam upaya pembuktian hipotesis, peneliti dapat saja dengan sengaja menimbulkan atau menciptakan suatu gejala. Kesengajaan ini disebut percobaan atau eksperimen. Hipotesis yang telah teruji kebenarannya disebut teori.

Kegunaan Hipotesis

Secara garis besar kegunaan hipotesis adalah sebagai berikut(Nazir 1983):
  1. Memberikan batasan serta memperkecil jangkauan penelitian dan kerja penelitian.
  2. Mensiagakan peneliti kepada kondisi fakta dan hubungan antarfakta, yang kadangkala hilang begitu saja dari perhatian peneliti.
  3. Sebagai alat yang sederhana dalam memfokuskan fakta yang bercerai berai tanpa koordinasi ke dalam suatu kesatuan penting dan menyeluruh.
  4. Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta dan antar fakta
Tinggi rendahnya kegunaan hipotesis sangat bergantung dari (Nazir 1983) :
1.    Pengamatan yang tajam dari si peneliti
2.    Imajinasi serta pemikiran kreatif dari si peneliti
3.    Kerangka analisis yang digunakan oleh si peneliti
4.    Metode serta desain penelitian yang dipilih oleh peneliti

Sedangkan menurut Husein umar Fungsi Hipotesis itu sendiri adalah sebagai berikut:
1.    Sebagai jawaban sementara yang masih perlu diuji kebenarannya.
2.    Petunjuk kearah penyidikan yang lebih lanjut.
3.    Sebagai suatu ‘working hypotesis’ atau hipotesis kerja.
4.    Suatu ramalan atau dugaan tentang sesuatu yang bakal datang atau bakal ditemukan.
5.    Sebagai konsep yang berkembang.
6.    Sebagai bahan dari bangunan dari suatu teori.

Ciri-Ciri Hipotesis Yang Baik

Perumusan hipotesis yang baik dan benar harus memenuhi ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Hipotesis harus dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan deklaratif, bukan kalimat pertanyaan.
  2. Hipotesis berisi penyataan mengenai hubungan antar paling sedikit dua variabel penelitian.
  3. Hipotesis harus sesuai dengan fakta dan dapat menerangkan fakta.
  4. Hipotesis harus dapat diuji (testable). Hipotesis dapat duji secara spesifik menunjukkan bagaimana variabel-variabel penelitian itu diukur dan bagaimana prediksi hubungan atau pengaruh antar variabel termaksud.
  5. Hipotesis harus sederhana (spesifik) dan terbatas, agar tidak terjadi kesalahpahaman pengertian.
Jenis Hipotesis

Menurut Husein Umar (2003) didalam penelitian dikenal beberapa jenis hipotesis,di antaranya adalah sebagai berikut:
  1. Preliminary hyphotesis ialah hipotesis pendahuluan atau hipotesis sementara, yang belum atau sedang diuji kebenarannya. Contoh, seseorang beranggapan karena logikanya, Bahwa kepuasan kerja seseorang sangat tergantung pada gaji atau pendapatan yang diterimanya setelah bekerja.
  2. Hipotesis yaitu hipotesis pada umumnya atau premilinary hyphotesis yang sudah diuji kebenarannya dan telah diterimasebagai hipotesis. Contoh, bahwa telah banyak penelitian yang membuktikan ternyata benar adanya bahwa gaji ternyata berpengaruh kuat terhadap kepuasan kerja seseorang.
  3. Hipotesi penelitian yaitu hipotesis yang berfungsi sebagai penuntun dalam melakukan penelitian. Misalnya, dalam perihal gaji yang berpengaruh kuat terhadap kepuasan kerja. Disuatu perusahaan yang bergerak dalam bidang konsultan manajemen akan diteliti apa benar bahwa gaji mempunyai pengaruh besar terhadap kepuasan kerja para konsultan. Jadi, penelitian akan fokus ke sana saja, tidak muter-muter.
  4. Asumsi ialah anggapan. Misalnya, hipotesis bahwa sekitar tahun 2010 pulau jawa akan menjadi kota-pulau. Hipotesis ini berdasarkan asumsi-asumsi tertentu; pertambahan penduduk begini dan begitu, dan lain-lain.
  5. Hipotesis Nol. Merupakan pernyataan sementara suatu parameter yang akan diuji melalui uji statistik. Contoh, misalkan ada dua kelompok mahasiswa:
                a.    Mahasiswa yang kos/kontrak
                b.    Mahasiswa yang tinggal bersama orangtua

Pertanyaan :  Adakah korelasi antara prestasi mahasiswa dan tempat tinggal mahasiswa antara yang   kos/kontrak dan tinggal bersama orang tua?
Jawab :  Ho: Tidak ada perbedaan

Hipotesis ini menuntun penelitian terhadap kedua kelompok. Kalau ternyata benar, hipotesis nol itu diterima sebagai tesis. Sebaliknya, kalau terbukti keliru, hipotesis nol itu ditolak dan dirumuskanlah hipotesis baru.

Uji hipotesis

Uji Hipotesis adalah metode pengambilan keputusan yang didasarkan pada fungsi sebagai penuntun dalam analisa data, baik dari percobaan yang terkontrol, maupun dari observasi (tidak terkontrol). Dalam statistik sebuah hasil bisa dikatakan signifikan secara statistik jika kejadian tersebut hampir tidak mungkin disebapkan oleh faktor yang kebetulan, sesuai dengan batas probabilitas yang sudah ditentukan sebelumnya.

Uji hipotesis kadang disebut juga "konfirmasi analisa data". Keputusan dari uji hipotesis hampir selalu dibuat berdasarkan pengujian hipotesis nol. Ini adalah pengujian untuk menjawab pertanyaan yang mengasumsikan hipotesis nol adalah benar.
Daerah kritis (en= Critical Region) dari uji hipotesis adalah serangkaian hasil yang bisa menolak hipotesis nol, untuk menerima hipotesis alternatif. Daerah kritisini biasanya di simbolkan dengan huruf C.

Contoh Uji Hipotesis
Seorang yang dituduh pencuri dihadapkan kepada seorang hakim. Seorang hakim akan menganggap orang tersebut tidak bersalah, sampai kesalahannya bisa dibuktikan. Seorang jaksa akan berusaha membuktikan kesalahan orang tersebut.
Dalam kasus ini, Hipotesis nol (H0) adalah: "Orang tersebut tidak bersalah", dan Hipotesis alternatif (H1) adalah : "Orang tersebut bersalah". Hipotesis alternatif (H1) inilah yang akan dibuktikan.
Ada dua kondisi yang mungkin terjadi terhadap orang tersebut:
1.    Orang tersebut tidak bersalah.
2.    Orang tersebut bersalah.
Dan ada dua keputusan yang bisa diambil hakim
1.    Melepaskan orang tersebut.
2.    Memenjarakan orang tersebut.




                                                  Hipotesis nol (H0) benar               Hipotesi alternatif (HI) benar
                                                  (Orang tersebut tidak bersalah)     (Orang tersebut bersalah)
                                                      

Menerima hipotesis nol                Keputusan yang benar                Keputusan yang salah
(Orang tersebut dibebaskan)         Keputusan yang salah                (kesalahan Tipe II)
                                                                                       
Menolak hipotesis nol                  Keputusan yang salah                 Keputusan yang benar
(Orang tersebut dipenjara)            (Kesalahan Tipe I)  

Dalam kasus ini, ada dua kemungkinan kesalahan yang dilakukan hakim
1.    Memenjarakan orang yang benar (Kesalahan Tipe I)
2.    Melepaskan orang yang bersalah (Kesalahan Tipe II)

Sumber :
Husein Umar. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Umum, 2003
http://id.wikipedia.org/wiki/Hipotesis
http://sinaukomunikasi.wordpress.com/2011/10/16/merumuskan-hipotesis/

METODE ILMIAH

Pengertian Metode Ilmiah

Metode ilmiah dapat dikatakan suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis. Karena ideal dari ilmu adalah untuk memperoleh interelasi yang sistematis dari fakta-fakta, maka metode ilmiah berkehendak untuk mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan pendekatan kesangsian sistematis. Karena itu, penelitian dan metode ilmiah mempunyai hubungan yang dekat sekali, jika tidak dikatakan sama. Dengan adanya metode ilmiah, pertanyaan-pertanyaan dalam mencari dalil umum akan mudah terjawab, seperti menjawab seberapa jauh, mengapa begitu, apakah benar, dan sebagainya.

Menurut Almadk (1939),” metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran. Sedangkan Ostle (1975) berpendapat bahwa metode ilmiah adalah pengejaran terhadap sesuatu untuk memperoleh sesuatu interelasi.” Jadi pengertian metode ilmiah adalah suatu usaha untuk menemukan hal menurut metode yang ilmiah.

Ilmiah harus memiliki kebenaran yang dapat dilihat dari sisi bahwa ia sesuai dengan fakta dan aturan, obyektif, masuk akal dan memiliki asumsi-asumsi. Oleh karena kebenaran ilmiah harus sesuai dengan aturan, maka berarti harus memiliki metode. Metode Ilmiah atau sering hanya ditulis metode, metoda atau methode dapat diartikan sebagai suatu cara atau jalan pengaturan atau pemeriksaan sesuatu. Ia bersifat empiris, artinya keputusan-keputusan diambil berdasarkan data empiris (pengalaman yang benar). Oleh karena metode itupun harus benar maka ada ilmu yang mempelajari tentang metode, yang untuk metode riset ilmunya disebut Metodologi Riset.

Tujuan metode ilmiah adalah  :
•    Mendapatkan pengetahuan ilmiah (yang rasional, yang teruji) sehingga
merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan.
•    Merupakan suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis.
•    Untuk mencari ilmu pengetahuan yang dimulai dari penentuan masalah, pengumpulan data yang relevan, analisis data dan interpretasi temuan, diakhiri dengan penarikan kesimpulan.

Sifat Metode Ilmiah
1.Efisien dalam penggunaan sumber daya (tenaga, biaya, waktu).
2.Terbuka (dapat dipakai oleh siapa saja).
3.Teruji (prosedurnya logis dalam memperoleh keputusan).

KRITERIA METODE ILMIAH
Supaya suatu metode yang digunakan dalam penelitian disebut metode ilmiah, maka metode tersebut harus mempunyai kriteria sebagai berikut:
1. Berdasarkan fakta.
2. Bebas dari prasangka
3. Menggunakan prinsip-prinsip analisa.
4. Menggunakan hipotesa
5. Menggunakah ukuran objektif.
Menggunakan teknik kuantifikasi

Unsur utama metode ilmiah adalah pengulangan empat langkah berikut:
1.    Karakterisasi (pengamatan dan pengukuran)
2.    Hipotesis (penjelasan teoretis yang merupakan dugaan atas hasil pengamatan dan pengukuran)
3.    Prediksi (deduksi logis dari hipotesis)
4.    Eksperimen (pengujian atas semua hal di atas)

a). Karakterisasi
Metode ilmiah bergantung pada karakterisasi yang cermat atas subjek investigasi. Dalam proses karakterisasi, ilmuwan mengidentifikasi sifat-sifat utama yang relevan yang dimiliki oleh subjek yang diteliti. Selain itu, proses ini juga dapat melibatkan proses penentuan (definisi) dan pengamatan; pengamatan yang dimaksud seringkali memerlukan pengukuran dan/atau perhitungan yang cermat.

Umumnya terdapat empat karakteristik penelitian ilmiah :

1.Sistematis
Berarti suatu penelitian harus disusun dan dilaksanakan secara berurutan sesuai pola dan kaidah yang benar, dari yang mudah dan sederhana sampai yang kompleks.

2. Logis
Suatu penelitian dikatakan benar bila dapat diterima akal dan berdasarkan fakta empirik. Pencarian kebenaran harus berlangsung menurut prosedur atau kaidah bekerjanya akal yaitu logika. Prosedur penalaran yang dipakai bisa dengan prosedur induktif yaitu cara berpikir untuk menarik kesimpulan umum dari berbagai kasus individual (khusus), atau prosedur deduktif yaitu cara berpikir untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus dari pernyataan yang bersifat umum.

3. Empirik
Artinya suatu penelitian yang didasarkan pada pengalaman sehari-hari, yang ditemukan atau melalui hasil coba-coba yang kemudian diangkat sebagai hasil penelitian. Landasan empirik ada tiga yaitu :
•    Hal-hal empirik selalu memiliki persamaan dan perbedaan (ada penggolongan atau perbandingan satu sama lain).
•    Hal-hal empirik selalu berubah-ubah sesuai dengan waktu.
•    Hal-hal empirik tidak bisa secara kebetulan,melainkan ada penyebabnya.

4. Replikatif
Artinya suatu penelitian yang pernah dilakukan harus di uji kembali oleh peneliti lain dan harus memberikan hasil yang sama bila dilakukan dengan metode, kriteria, dan kondisi yang sama. Agar bersifat replikatif, penyusunan definisi operasional variable menjadi langkah penting bagi seorang peneliti.

Karakteristik lain dalam metode ilmiah yaitu sebagai berikut :
  • Bersifat kritis, analistis, artinya metode menunjukkan adanya proses yang tepat untuk mengidentifikasi masalah dan menentukan metode untuk pemecahan masalah.
  • Bersifat logis, artinya dapat memberikan argumentasi ilmiah. Kesimpulan yang dibuat secara rasional berdasarkan bukti-bukti yang tersedia.
  • Bersifat obyektif, artinya dapat dicontoh oleh ilmuwan lain dalam studi yang sama dengan kondisi yang sama pula.
  • Bersifat konseptual, artinya proses penelitian dijalankan dengan pengembangan konsep dan teori agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
  • Bersifat empiris, artinya metode yang dipakai didasarkan pada fakta di lapangan.
b).Prediksi dari hipotesis
Hipotesis yang berguna akan memungkinkan prediksi berdasarkan deduksi. Prediksi tersebut mungkin meramalkan hasil suatu eksperimen dalam laboratorium atau pengamatan suatu fenomena di alam. Prediksi tersebut dapat pula bersifat statistik dan hanya berupa probabilitas. Hasil yang diramalkan oleh prediksi tersebut haruslah belum diketahui kebenarannya
Jika hasil yang diramalkan sudah diketahui, hal itu disebut konsekuensi dan seharusnya sudah diperhitungkan saat membuat hipotesis. Jika prediksi tersebut tidak dapat diamati, hipotesis yang mendasari prediksi tersebut belumlah berguna bagi metode bersangkutan dan harus menunggu metode yang mungkin akan datang. Sebagai contoh, teknologi atau teori baru boleh jadi memungkinkan eksperimen untuk dapat dilakukan.

c). Eksperimen
Setelah prediksi dibuat, hasilnya dapat diuji dengan eksperimen. Jika hasil eksperimen bertentangan dengan prediksi, maka hipotesis yang sedak diuji tidaklah benar atau tidak lengkap dan membutuhkan perbaikan atau bahkan perlu ditinggalkan. Jika hasil eksperimen sesuai dengan prediksi, maka hipotesis tersebut boleh jadi benar namun masih mungkin salah dan perlu diuji lebih lanjut.
Eksperimen tersebut dapat berupa eksperimen klasik di dalam laboratorium atau ekskavasi arkeologis.Pencatatan juga akan membantu dalam reproduksi eksperimen.

Langkah-langkah dalam metode ilmiah

Schluter (1926) memberikan 15 langkah dalam melaksanakan penelitian dengan metode ilmiah. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Pemilihan bidang, topik atau judul penelitian.
  2. Mengadakan survei lapangan untuk merumuskan masalah-malalah yang ingin dipecahkan.
  3. Membangun sebuah bibliografi.
  4. Memformulasikan dan mendefinisikan masalah.
  5. Membeda-bedakan dan membuat out-line dari unsur-unsur permasalahan.
  6. Mengklasifikasikan unsur-unsur dalam masalah menurut hu-bungannya dengan data atau bukti, baik langsung ataupun tidak langsung.
  7. Menentukan data atau bukti mana yang dikehendaki sesuai dengan pokok-pokok dasar dalam masalah.
  8. Menentukan apakah data atau bukti yang dipertukan tersedia atau tidak.
  9. Menguji untuk diketahui apakah masalah dapat dipecahkan atau tidak.
  10. Mengumpulkan data dan keterangan yang diperlukan.
  11. Mengatur data secara sistematis untuk dianalisa.
  12. Menganalisa data dan bukti yang diperoleh untuk membuat interpretasi.
  13. Mengatur data untuk persentase dan penampilan.
  14. Menggunakan citasi, referensi dan footnote (catatan kaki).
  15. Menulis laporan penelitian.
Dalain melaksanakan penelitian secara ilmiah. Abclson (1933) mcmberikan langkah-langkah berikut
1. Tentukan judul. Judul dinyatakan secara singkat.
2. Pemilihan masalah. Dalam pemilihan ini harus:
  • Nyatakan apa yang disarankan oleh judul.  
  • Berikan alasan terhadap pemilihan tersebut. Nyatakan perlunya  diselidiki masalah menurut kepentingan umum.
  • Sebutkan ruang lingkup penelitian. Secara singkat jelaskan materi. situasi dan hal-hal lain yang menyangkut bidang yang akan diteliti. 
3. Pemecahan masalah. Dalain niemecahkan masalah harus diikuti hal-hal berikut:
  • Analisa harus logis, aturlah bukti dalam bnntuk yang sistematis dan logis. Demikian juga halnya unsur-unsur yang dapat memecahkan masalah.
  • Proscdur penelitian yang digunakan harus dinyatakan secara singkat.
  • Urutkan data, fakta dan keterangan-keterangan khas yang diperlukan.
  • Harus dinyatakan bagaimana set dari data diperoleh termasuk referensi yang digunakan.
  • Tunjukkan cara data dilola sampai mempunyai arti dalam memecahkan masalah.
  • Urutkan asumsi-asumsi yang digunakan serta luibungannya dalam berbagai fase penelitian.
4.Kesimpulan
  • Berikan kesimpulan dari hipotesa. nyatakan dua atau tiga kesimpulan yang mungkin diperoleh
  • Berikan implikasi dari kesimpulan. Jelaskan bebernpa implikasi dari produk hipotesa dengan memberikan beberapa inferensi.
5. Berikan studi-studi sebelumnya yang pernah dikerjakan yang berhubungan dengan masalah.
Nyalakan kerja-kerja sebelumnya secara singkat dan berikan referensi bibliografi yang mungkin ada manfaatnya scbagai model dalam memecahkan masalah. Dari pedoman beberapn ahli di atas, maka dapal disimpulkan balnwa penelitian dengan mcnggunakan metode ilmiah sckurang-kurangnya dilakukan dengan langkah-langkah berikut:

5.1. Merumuskan serta mcndefinisikan masalah
langkah pertama dalam meneliti adalah menetapkan masalah yang akan dipecahkan. Untuk menghilangkan keragu-raguan. masalah tersebut didefinisikan secara jelas. Sampai ke mana luas masalah yang akan dipecahkan Sebutkan beberapa kata kunci (key words) yang terdapal dalam masalah Misalnya. masalah yang dipilih adalah Bagaimana pengaruh mekanisasi terhadap pendapatan usaha tani di Aceh?
Berikan definisi tentang usaha tani, tentang mekanisasi, pada musim apa. dan sebagainya

5.2. Mengadakan studi kepustakaan
Setelah masalah dirumuskan, step kedua yang dilakukan dalam mencari data yang tersedia yang pernah ditulis peneliti sebelumnya yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan. Kerja mencari bahan di perpustakaan merupakan hal yang tak dapat dihindarkan olch seorang peneliti. Ada kalanya. perumusan masalah dan studi keputusan dapat dikerjakan secara bersamaan.

5.3. Memformulasikan hipotesa
Setelah diperoleh infonnasi mengenai hasil penelitian ahli lain yang ada sangkut-pautnya dengan masalah yang ingin dipecahkan. maka tiba saatnya peneliti memformulasikan hipotesa-hipolesa unttik penelitian. Hipotesa tidak lain dari kesimpulan sementara tentang hubunggan sangkut-paut antarvariabel atau fenomena dalam penelitian. Hipotesa merupakan kesimpulan tentatif yang diterima secara sementara sebelum diuji.

5.4. Menentukan model untuk menguji hipotesa
Setelah hipotesa-hipotesa ditetapkan. kerja selanjutnya adalah merumuskan cara-cara untuk menguji hipotesa tersebut. Pada ilmu-ilmu sosial yang telah lebih berkembang. scperti ilmu ekonomi misalnva. pcnguji’an hipotesa didasarkan pada kerangka analisa (analytical framework) yang telah ditetapkan. Model matematis dapat juga dibuat untuk mengrefleksikan hubungan antarfenomena yang secara implisif terdapal dalam hipotesa. untuk diuji dengan teknik statistik yang tersedia.
Pcngujian hipotesa menghendaki data yang dikumpulkan untuk keperluan tersebut. Data tersebut bisa saja data prime ataupun data sekunder yang akan dikumpulkan oleh peneliti.

5.5. Mengumpulkan data
Peneliti memerlukan data untuk menguji hipotesa. Data tersebut yang merupakan fakta yang digunakan untuk menguji hipotesa perlu dikumpulkan. Bcrgantung dan masalah yang dipilih serta metode pcnelitian yang akan digunakan. teknik pengumpulan data akan berbeda-beda. Jika penelitian menggunakan metode percobaan. misalnya. data diperoleh dan plot-plot pcrcobaan yang dibual sendiri oleh peneliti Pada metodc scjarah ataupun survei normal, data diperoleh dengan mcngajukan pertanyaan-pertanyaan kepada responden. baik secara langsung ataupun dengan menggunakan questioner Ada kalanya data adalah hasil pengamatan langsung terhadap perilaku manusia di mana peneliti secara partisipatif berada dalam kelompok orang-orang yang diselidikinya.

5.6. Menyusun, Menganalisa, and Menyusun interfensi
Setelah data terkumpul. pcneliti menyusun data untuk mengadakan analisa Sebelum analisa dilakukan. data tersebul disusun lebih dahulu untuk mempermudah analisa. Penyusunan data dapat dalam bentuk label ataupun membuat coding untuk analisa dengan komputer. Sesudah data dianalisa. maka perlu diberikan tafsiran atau interpretasi terhadap data tersebut.

5.7. Membuat generalisasi dan kesimpulan
Setelah tafsiran diberikan, maka peneliti membuat generalisasi dari penemuan-penemuan, dan selanjutnya memberikan beberapa kesimpulan. Kesimpulan dan generalisasi ini harus berkaitan dengan hipotesa. Apakah hipotesa benar untuk diterima. ataukah hiporesa tersebut ditolak.

5.8. Membuat laporan ilmiah
Langkah terakhir dari suatu penelitian ilmiah adalah membuat laporan ilmiah tentang hasil-hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut. Penulisan secara ilmiah mempunyai teknik tersendiri.

Sumber :
Husein Umar. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Umum, 2003
http://dossuwanda.wordpress.com/2008/03/29/apakah-yang-dimaksud-dengan-metode-ilmiah/
http://bio-nikith.blogspot.com/2012/05/metode-metode-ilmiah.htmlhttp://bloggueblog.wordpress.com/2012/04/27/pengertian-metode-ilmiah/

Senin, 01 April 2013

KARYA TULIS

A.  KARYA TULIS ILMIAH

Secara umum, suatu karya ilmiah dapat diartikan sebagai suatu hasil karya yang dipandang memiliki kadar ilmiah tertentu serta dapat dipertanggungjawabkan dalam bentuk karangan atau tulisan ilmiah, dapat pula disampaikan secara lisan dalam bentuk pidato atau orasi ilmiah, dan dapat melalui suatu bentuk demonstrasi. Dengan demikian, karangan atau tulisan ilmiah adalah semua bentuk karangan yang memiliki kadar ilmiah tertentu sesuai dengan bidang keilmuannya (sains, teknologi, ekonomi, pendidikan, bahasa dan sastra, kesehatan, dan lain- lain).

Karya tulis ilmiah dikemukakan berdasarkan pemikiran, kesimpulan, serta pendapat/pendirian penulis yang dirumuskan setelah mengumpulkan dan mengolah berbagai informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber, baik teoretik maupun empirik. Karya ilmiah senantiasa bertolak dari kebenaran ilmiah dalam bidang ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan permasalahan yang disajikan. Titik tolak ini merupakan sumber kerangka berpikir (paradigma, meminjam istilah Thomas Kuhn), dalam mengumpulkan informasi-informasi secara empirik.

CIRI-CIRI KARYA ILMIAH:    
Perbedaan antara karangan ilmu pengetahuan yang ilmiah dan non-ilmiah itu dapat dilihat melalui ciri-cirinya. Secara ringkas ciri-ciri karangan ilmu pengetahuan yang ilmiah adalah sebagai berikut :
1)      Menyajikan fakta yang obyektif secara sistematis atau menyajikan aplikasi hukum alam pada situasi spesifik.
2)      Penulisan cermat, tepat, dan benar serta tulus tanpa mengingat efektifnya.
3)      Tidak mengejar keuntungan pribadi, yaitu tidak berambisi agar pembaca berpihak padanya. Motivasi penulis hanya untuk memberitahukan tentang sesuatu. Penulis ilmiah tidak ambisius dan tidak berprasangka.
4)      Karangan ilmiah itu tidak emotif dan tidak menonjolkan perasaan, karangan ilmiah menyajikan sebab-musabab dan pengertian, kata-katanya mudah diidentifikasi, alasan-alasan yang dikemukakan indusif, mendorong untuk menarik kesimpulan tidak terlalu tinggi, dan bukan ajakan.
5)      Karangan yang ilmiah itu sistematis, tiap langkah direncanakan secara sistematis,  terkendali, konseptual dan prosedural.
6)      Tidak memuat pandangan-pandangan tanpa pendukung kecuali dalam hipotesis kerja.
7)      Ditulis secara tulus dan memuat kebenaran serta tidak memancing pertanyaan-pertanyaan yang bernada keraguan.
8)      Karangan yang ilmiah itu tidak persuasif. Tujuan karangan yang ilmiah itu benar-benar untuk mendorong pembaca merubah pendapat tetapi tidak melalui ajakan, argumentasi, sanggahan atau protes tapi membiarkan fakata  berbicara sendiri.
9)      Karangan yang ilmiah itu tidak melebih-lebihkan  sesuatu. Dalam karya ilmiah hanya disajikan kebenaran fakta, oleh sebab itu memutarbalikkan fakta akan menghancurkan tujuan penulisan karangan ilmiah. Melebih-lebihkan sesuatu itu umumnya disebabkan oleh motif mementingkan diri sendiri.
Jadi, karangan yang tidak memiliki beberapa ciri diatas bisa dibilang dengan karangan non-ilmiah.

Dalam penulisan karya ilmiah ada beberapa sikap yang perlu dimiliki oleh seorang penulis yaitu :
•    Sikap terbuka 
Sikap terbuka yang dimiliki seorang penulis yaitu mau mendengarkan pendapat, argumentasi, kritik, dan keterangan orang lain, walaupun pada akhirnya pendapat, argumentasi, kritik, dan keterangan orang lain tersebut tidak diterima karena tidak sepaham atau tidak sesuai.
•    Sikap berani mempertahankan kebenaran
Sikap ini menampak pada ketegaran membela fakta dan hasil temuan lapangan atau pengembangan walapun bertentangan atau tidak sesuai dengan teori atau dalil yang ada.
•    Sikap menjangkau ke depan 
Sikap ini dibuktikan dengan selalu ingin membuktikan hipotesis yang disusunnya demi pengembangan bidang ilmunya.
•    Sikap objektif
Sikap objektif ini terlihat pada kebiasaan menyatakan apa adanya, tanpa diikuti perasaan pribadi.
•    Sikap rela menghargai karya orang lain
Sikap menghargai karya orang lain ini terlihat pada kebiasaan menyebutkan sumber secara jelas sekiranya pernyataan atau pendapat yang disampaikan memang berasal dari pernyataan atau pendapat orang lain.
•    Sikap ingin tahu
Sikap ingin tahu ini terlihat pada kebiasaan bertanya tentang berbagai hal yang berkaitan dengan bidang kajiannya.
•    Sikap kritis
 Sikap kritis ini terlihat pada kebiasaan mencari informasi sebanyak mungkin berkaitan dengan bidang kajiannya untuk dibanding-banding kelebihan-kekurangannya, kecocokan-tidaknya, kebenaran-tidaknya, dan sebagainya.

MACAM-MACAM KARYA ILMIAH :
•    Skripsi
Skripsi adalah karya ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa program Sarjana (SI) sebagai persyaratan untuk menyelesaikan program studi yang ditempuhnya.
•    Tesis
Tesis  adalah karya ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa program Sarjana (S2)
Sebagai persyaratan untuk menyelesaikan program studi yang ditempuhnya.
•    Disertasi
Disertasi  adalah karya ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa program Sarjana (S3) Sebagai persyaratan untuk menyelesaikan program studi yang ditempuhnya.
Secara umum, perbedaan antara skripsi, tesis, dan disertasi dapat dilihat dari 2 aspek yaitu aspek kuantitatif dan aspek kualitatif. Dari aspek kuantitatif, secara literal dapat dikatakan bahwa disertasi lebih berat bobot akademisnya daripada tesis dan tesis lebih berta bobot akademisnya daripada skripsi.
•    Artikel ilmiah
Artikel ilmiah adalah karya tulis yang dirancang untuk dimuat dalam jurnal atau buku kumpulan artikel yang ditulis dengan tata cara ilmiah dan mengikuti pedoman ataupun konvensi ilmiah yang telah disepakati atau ditetapkan. Artikel ilmiah dapat diangkat dari penelitian lapangan, hasil pemikiran dan kajian pustaka, atau hasil pengembangan proyek.
Dari segi sistematika penulisan dan isinya, artikel dapat dikelompokkan menjadi 2 macam, yaitu :
1)      Artikel penelitian adalah hasil-hasil penelitian yang ditulis dalam bentuk artikel untuk kemudian diterbitkan dalam jurnal-jurnal. Artikel ini mempunyai kelebihan dibanding dengan tulisan yang ditulis dalam bentuk laporan teknis resmi
2)      Artikel non-penelitian adalah semua  jenis artikel ilmiah yang bukan merupakan laporan hasil penelitian. Yang termasuk artikel non-penelitian antara lain berupa artikel yang menelaah suatu teori konsep atau prinsip mengembangkan suatu model, mendeskripsikan fakta atau fenomena tertentu, menilai suatu produk, dan masih banyak jenis yang lain.
•    Makalah
Makalah adalah karya tulis yang memuat pemikiran tentang suatu masalah atau topik tertentu yang ditulis secara sistematis dan runtut dengan disertai analisis yang logis dan obyektif. Makalah ditulis untuk memenuhi tugas terstruktur yang diberikan oleh dosen atau ditulis atas inisiatif sendiri untuk disajikan dalam forum ilmiah.
•    Proposal
Proposal adalah usulan penelitian yang disusun sebelum melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui kualitas penelitian atau kegiatan yang akan dilakukan. Proposal ditulis secara sistematis, berencana, dan mengikuti konsep ilmiah yang sudah ditentukan. Jenis-jenis proposal antara lain adalah :
ü  Proposal kegiatan
ü  Proposal skripsi
ü  Proposal penelitian

Adapun manfaat dari penulisan karya ilmiah adalah sebagai berikut :
1. Melatih berpikir tertib dan teratur karena menulis ilmiah harus mengikuti tata cara penulisan yang   sudah ditentukan prosedur tertentu, metode dan teknik, aturan / kaidah standar, disajikan teratur, runtun dan tertib.
2. Menulis ilmiah memerlukan literatur, buku-buku ilmiah, kamus, ensiklopedia yang disusun tertib.
3. Pada hakikatnya sebuah karangan ilmiah yaitu laporan tentang suatu kebenaran yang diperoleh dari hasil suatu penelitian.
4. Dalam karya ilmiah ada organ yang disebut bab pembahasan yang berfungsi menganalisis, memecahkan dan menjawab setiap permasalahan sampai tuntas hingga ditemukan sebuah jawaban.
5. Karena didalam karya ilmiah ada organ yang disebut bab landasan teori atau kerangka teoritis yang berfungsi memaparkan teori – teori para ahli serta mengomentari atau mengkritiknya untuk memperkuat argumen penulis.
6. Bahasa yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah harus jelas atau harus bermakna tunggal tidak boleh ambigu), penempatan gatra ( unsure fungsional dalam kalimat harus lengkap dan tepat) dan diksi atau pilihan kata harus tepat.

SISTEMATIKA PENULISAN KARYA ILMIAH
Penelitian ini disusun dalam 5 bab dengan perincian sebagai berikut :
•    Bab I : Pendahuluan
Bab ini menguraikan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
•    Bab II : Telaah Pustaka
Bab ini menguraikan mengenai teori-teori yang melandasi penelitian ini termasuk penelitian terdahulu didalamnya, hipotesis, dan model penelitian yang digunakan.
•    Bab III : Metode Penelitian
Bab ini menguraikan variabel-variabel penelitian dan definisi operasional variabel, populasi, dan sampel yang digunakan, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data, serta metode analisis yang digunakan.
•    Bab IV : Hasil dan analisis
Bab ini menguraikan deskripsi objek penelitian yang berisi profil perusahaan dan hasil dari penelitian serta pembahasannya.
•    Bab V : Penutup
Bab ini menguraikan kesimpulan yang didapat dari penelitian, keterbatasan, serta saran.

B.  KARYA TULIS NON ILMIAH
Karya tulis non-ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, tidak didukung fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang popular atau biasa digunakan (tidak terlalu formal).
Karya tulis non-ilmiah itu pun bervariasi bahan topiknya dan cara penyajiannya, tetapi isinya tidak didukung oleh fakta umum. Bahasanya mungkin kongkret atau abstrak, gaya bahasanya mungkin formal dan teknis, atau formal dan populer.

Ciri-ciri karya tulis non-ilmiah
•    ditulis berdasarkan fakta pribadi,
•    fakta yang disimpulkan subyektif,
•    gaya bahasa konotatif dan populer,
•    tidak memuat hipotesis,
•    penyajian dibarengi dengan sejarah,
•    bersifat imajinatif,
•    situasi didramatisir,
•    bersifat persuasif.
•    tanpa dukungan bukti

Sifat karya non ilmiah:

1. Emotif, lebih merupakan refleksi dari sebuah perasaan yang terkadang melampui kebenaran,
2. Persuasif, yaitu bersifat mempengaruhi pikiran pembaca,
3. Deskriftif subjektif, dalam arti tidak didukung oleh data dan fakta, dan
4.Terkadang over claiming. Karya-karya non ilmiah ini terutama dapat dilihat dalam bentuk
    karya-karya seni, seperti  cerpen, novel, puisi, komik dan lain-lain yang semisalnya.


C. KARYA TULIS SEMI ILMIAH

Adalah sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan dan penulisannya
pun dengan bahasa konkret, gaya bahasa formal, dan didukung dengan fakta umum yang dapat
dibuktikan benar atau tidaknya atau sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi
dalam suatu tulisan dan penulisannya tidak semiformal tetapi tidak sepenuhnya mengikuti
metode ilmiah yang sintesis-analitis karena sering dimasukkan karangan non-ilmiah. Maksud
dari karangan non-ilmiah tersebut ialah karena jenis Semi Ilmiah memang masih banyak
digunakan misal dalam komik, aneka dongeng, hikayat, novel, roman dan cerpen.

Ciri-ciri karangan Semi Ilmiah antara lain adalah :
•    Ditulis berdasarkan fakta pribadi
•    Fakta yang disimpulkan subyekti
•    Gaya bahasa formal dan popular
•    Mementingkan diri penulis
•    Melebihkan-lebihkan sesuatu
•    Usulan-usulan bersifat argumentatif, dan
•    Bersifat persuasif.   



REFERENSI :
http://dwimarlenipratiwi.blogspot.com/2010/03/definisi-mengenai-karya-ilmiah.html
http://sugikmaut.blog.com/?p=15
http://nindiyahpuspitasari.blogspot.com/2011/02/karya-ilmiah-dan-non-ilmiah-ciri.html
http://variedzzz.wordpress.com/2011/05/10/karya-ilmiah/
http://newcyber18.blogspot.com/2012/11/karya-non-ilmiah.html
http://sellyinthewords.blogspot.com/2012/03/perbedaan-karangan-ilmiah-semi-ilmiah.html


Selasa, 26 Maret 2013

PENALARAN DEDUKTIF

Penalaran Deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pembentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala.

Contoh klasik dari penalaran deduktif, yang diberikan oleh Aristoteles, ialah :
  • Semua manusia fana (pasti akan mati). -> premis mayor 
  •  Sokrates adalah manusia. -> premis minor
  •  Sokrates pasti (akan) mati. -> kesimpulan 
Faktor - faktor penalaran deduktif : 

1. Pembentukan Teori
2. Hipotesis
3. Definisi Operasional
4. Instrumen
5. Operasionalisasi

 Macam-Macam Silogisme di dalam Penalaran Deduktif

 Di dalam penalaran deduktif terdapat entimen macam silogisme, yaitu silogisme kategorial, silogisme hipotesis, silogisme alternatif dan silogisme entimen.

A.  Silogisme Kategorial 

Silogisme kategorial disusun berdasarkan klasifikasi premis dan kesimpulan yang kategoris. Premis yang mengandung predikat dalam kesimpulan disebut premis mayor, sedangkan premis yang mengandung subjek dalam kesimpulan disebut premis minor. Silogisme kategorial terjadi dari tiga proposisi, yaitu: Premis umum : Premis Mayor (My) Premis khusus remis Minor (Mn) Premis simpulan : Premis Kesimpulan (K) Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term mayor, dan predikat simpulan disebut term minor.

Contoh silogisme Kategorial:
My  : Semua mahasiswa adalah lulusan SLTA
Mn  : Badu adalah mahasiswa
K     : Badu lulusan SLTA

Silogisme kategorial dapat dibedakan menjadi dua saja, yaitu silogisme kategorial dan silogisme tersusun. Dimana silogisme tersusun terbagi lagi menjadi tiga kategorial yaitu:
  • Epikherema Epikherema 
adalah jabaran dari silogisme kategorial yang diperluas dengan jalan memperluas salah satu premisnya atau keduanya. Cara yang biasa digunakan adalah dengan menambahkan keterangan sebab: penjelasan sebab terjadinya, keterangan waktu, maupun poembuktian keberadaannya.

Contoh: Semua pahlawan bersifat mulia sebab mereka selalu memperjuangkan hak miliki bersama dengan menomorduakan kepentingan pribadinya. Sultan Mahmud Badaruddin adalah pahlawan. Jadi, Sultan Mahmud Badaruddin itu mulia.
  • Entimem 
    Silogisme ini merupakan jenis silogisme yang sama dengan pada penjelasan di atas.
  • Sorites 
Silogisme tipe ini sangat cocok untuk bentuk-bentuk tulisan atau pembicaraan yang bernuansa persuasif. Silogisme tipe ini didukung oleh lebih dari tiga premis, bergantung pada topik yang dikemukakan serta arah pembahasan yang dihubung-hubungkan demikian rupa sehingga predikat premis pertama menjadi subyek premis kedua, predikat premis kedua menjadi subyek pada premis ketiga, predikat premis kedua menjadi subyek pada premis keempat, dan seterusnya, hingga akhirnya sampailah pada kesimpulan yang diambil dari subyek premis pertama dan predikat premis terakhir.

B.  Silogisme Hipotesis

Silogisme Hipotesis terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis. Konditional hipotesis yaitu bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Bila minornya menolak anteseden, simpulannya juga menolak konsekuen. Contoh : Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa, maka kegelisahan akan timbul.Politik pemerintahan tidak dilaksanakan dengan paksa,Jadi kegelisahan tidak akan timbul.

 C.  Silogisme Alternatif

       Bentuk Silogisme Alterantif :
  • Memiliki premis mayor dan premis minor.
  • Premis mayor menggunakan ungkapan alternatif.
  • Premis minor menolak salah satu pilihan.
  • Memiliki satu konklusi.
                    Misal :               Premis mayor : A atau B
               Premis minor : Bukan A
               Konklusi : B

               Premis mayor : A atau B
               Premis minor : Bukan B
               Konklusi : A

D.  Silogisme Entimen

Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.
Contoh:
- Dia menerima hadiah pertama karena dia telah menang dalam sayembara itu.
- Anda telah memenangkan sayembara ini, karena itu Anda berhak menerima hadiahnya.



SUMBER :
http://lisarenhoat.blogspot.com/2013/03/penalaran-deduktif-dan-macam-macamnya.html
http://syahrulhavianto.blogspot.com/2012/03/definisi-dan-macam-macam-penalaran_4566.html
http://elfuego10.blogspot.com/2013/03/penalaran-deduktif-dan-macam-macamnya.html

Senin, 18 Maret 2013

PARAGRAF INDUKTIF ( GENERALISASI, ANALOGI, KAUSAL )

Paragraf merupakan bagian dari telaah wacana dalam bahasa Indonesia. Penalaran dalam paragraf sebuah bacaan dapat berpola deduktif dan induktif. Penalaran induktif adalah proses penalaran yang bertolak dari peristiwa yang sifatnya khusus menuju pertanyaan umum. Paragraf Induktif : paragraf yang dimulai dengan menyebutkan peristiwa-peristiwa yang khusus, untuk menuju kepada kesimpulan umum, yang mencakup semua peristiwa khusus di atas.















 Ciri-Ciri Paragraf Induktif

•    Terlebih dahulu menyebutkan peristiwa-peristiwa khusus
•    Kemudian, menarik kesimpulan berdasarkan peristiwa-peristiwa khusus
•    Kesimpulan terdapat di akhir paragraf
•    Menemukan Kalimat Utama, Gagasan Utama, Kalimat Penjelas
•    Kalimat utama paragraf induktif terletak di akhir paragraf
•    Gagasan Utama terdapat pada kalimat utama
•    Kalimat penjelas terletak sebelum kalimat utama, yakni yang mengungkapkan peristiwa-peristiwa khusus
•    Kalimat penjelas merupakan kalimat yang mendukung gagasan utama

Beberapa Contoh Paragraf Induktif

1.    Sejak suaminya meninggal dunia dua tahun yang lalu, Ny. Ahmad sering sakit. Setiap bulan ia pergi ke dokter memeriksa sakitnya. Harta peninggalan suaminya semakin menipis untuk membeli obat dan biaya pemeriksaan, serta untuk biaya hidup sehari-hari bersama tiga orang anaknya yang masih sekolah. Anak yang tetua dan adiknya masih kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta, sedangkan yang nomor tiga masih duduk di bangku SMA. Sungguh berat beban hidupnya.
Gagasan utama paragraf tersebut terdapat diakhir paragraf (Induktif), yaitu Sungguh berat beban hidupnya.

2.    Di era zaman globalisasi ini, banyak orang yang memiliki sepeda motor. Itu disebabkan, karena sekarang mereka bisa memiliki sepeda motor dengan cepat dan mudah. Agar tidak datang terlambat, banyak orang yang berangkat bekerja dengan mengendarai sepeda motor. Bahkan anak sekolah pun tidak mau kalah. Mereka berangkat ke sekolah memilih mengendarai sepeda motor. Dari pada naik sepeda biasa ataupun angkutan umum. Begitu juga dengan ibu-ibu. Untuk pergi ke pasar saja, mereka menggunakan sepeda motor. Hal ini menunjukkan bahwa sekarang sepeda motor dianggap sebagai barang yang sangatlah penting dalam kehidupan sehari-hari.
Gagasan utama paragraf tersebut terdapat diakhir paragraf (Induktif), yaitu sepeda motor dianggap sebagai barang yang sangatlah penting dalam kehidupan sehari-hari.

Paragraf Induktif Generalisasi

Generalisasi adalah penalaran induktif dengan cara menarik kesimpulan secara umum berdasarkan sejumlah data. Jumlah data atau peristiwa khusus yang dikemukakan harus cukup dan dapat mewakili.

Contoh:
1.    Kenaikan BBM baru-naru ini tekah menyebabkan harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi. Para pengguna angkutan umum harus membayar dua kali lipatbesarnya dari sebelum adanya kenaikan BBM. langkanya BBM membuatmasyarakat resah dan panik..

2.    Untuk mendapatkan komputer dengan kinerja yang memuaskan, kita wajib membeli hardware dan meng-upgrade software dengan baik. Bukan hanya itu saja, semua komponen komputer haruslah dirawat dengan baik agar tidak terjadi kerusakan. Dan pemakaian komputer haruslah baik, mulai dari penataan cahaya, suhu udara dan lama komputer dalam keadaan aktif. Jangan sampai komputer dalam keadaan menyala, tetapi tidak diakses. Jadi, untuk mendapatkan kinerja maksimal, memuaskan dan awet kita harus benar-benar memperhatikan komputer kita.

3.    Saya melihat orang-orang asyik membaca koran di halte bus. Kegiatan serupa juga saya jumpai di peron stasiun kereta api. Saat saya jalan-jalan di taman hal yang sama juga saya lihat orang duduk bersantai sambil membaca koran. Bahkan, ketika saya keluar ruang dan sampai di trotoar, saya melihat berderet anak sekolah, kawula muda, dan orang dewasa semua sedang membaca. Jadi, banyak orang yang memanfaatkan waktu untuk membaca.

Paragraf Induktif Analogi

Analogi adalah penalaran dengan cara membandingkan dua hal yang banyak menandung persamaan. Dengan kesamaan tersebut dapatlah ditarik kesimpulannya. Paragraf analogi ini merupakan bagian paragraf induktif.

Contoh:
Peternakan merupakan aspek perekonomian yang penting dan menjanjikan. Selain dapat menjadi lahan pendapatan, peternakan juga memiliki dampak positif meningkatkan gizi masyarakat. Pengembangan peternakan dapat memenuhi kebutuhan daging warga sehingga negara tidak perlu mengimpor daging dari luar. Pertanian juga merupakan aspek perekonomian yang penting. Pengembangan pertanian dapat memenuhi kebutuhan beras warga sehingga impor dari luar tidak diperlukan.

Paragraf Induktif Kausal (Sebab Akibat)

Hubungan kausal adalah proses penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan. Hubungan kausal ada tiga jenis, yaitu sebagai berikut:
•    Sebab – Akibat. Sebab – akibat ini berpola A menyebabkan B.
•    Akibat – Sebab. Akibat – sebab ini berpola Akibat dari B
•    Akibat–Akibat. Akibat–akibat merupakan penalaran yang menyiratkan penyebabnya, Peristiwa akibat langsung disimpulkan pada akibat yang lain.

Contoh :
1.    Kemarau tahun ini cukup panjang. Sebelumnya, pohon-pohon di hutan sebagi penyerap air banyak yang ditebang. Di samping itu, irigasi di desa ini tidak lancar. Ditambah lagi dengan harga pupuk yang semakin mahal dan kurangnya pengetahuan para petani dalam menggarap lahan pertaniannya. Oleh karena itu, tidak mengherankan panen di desa ini selalu gagal.

2.    Bencana banjir lumpur akibat jebolnya tanggul Sumur Urip di Semarang Selatan menimbulkan berbagai macam penyakit. Beberapa penyakit yang akan timbul sesudah bencana adalah diare, tifus, dan demam berdarah. Masalah kesehatan pada korban dan masyarakat di sekitar lokasi bencana harus diantisipasi. Beberapa penyakit itu muncul karena lingkungan kotor dan sumber air bersih tercemar lumpur.

3.    Lima tahun yang lalu hutan bakau di Cilacap dibabat habis-habisan. Lahan bekas hutan bakau itu disulap menjadi tambak-tambak udang windu. Memang, pada waktu itu pengusaha udang windu memperoleh keuntungan besar karena harganya sangat mahal diluar negeri. Akan tetapi,setelah barang dagangan itu tidak laku dipasaran internasional, para pengusaha kembali ke kota, meninggalkan kerusakan lingkungan. Laut tercemar karena hutan bakau yang menyaring limbah yang masuk ke laut tidak ada lagi. Sekarang, puluhan ribu nelayan sulit menghidupi keluarganya karena tak ada ikan yang dapat ditangkap di tepi pantai.

Referensi:
http://www.wayankatel.com/2012/09/pengertian-ciriciri-contoh-paragrafinduktif.html
http://laser-ijo.blogspot.com/2013/03/contoh-pararaf-induktif-sebab-akibat.html
http://jurnalmasbro.wordpress.com/2012/12/12/belajar-mengenal-paragraf-berpola-induktif-generalisasi-analogi-dan-kausal/
http://laser-ijo.blogspot.com/2013/03/contoh-paragraf-induktif-generalisasi.html

Selasa, 12 Juni 2012

Perbatasan Wilayah Darat dan Laut Negara Indoneia dengan Negara Tetangga

Republik Indonesia atau biasa disingkat menjadi RI adalah negara di Asia Tenggara, yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada di antara benua Asia dan Australia serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 13.487 pulau, oleh karena itu ia disebut juga sebagai Nusantara ("pulau luar", di samping Jawa yang dianggap pusat). Dengan populasi sebesar 222 juta jiwa pada tahun 2006, Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dan negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, meskipun secara resmi bukanlah negara Islam. Bentuk pemerintahan Indonesia adalah republik, dengan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Presiden yang dipilih langsung. Ibukota negara ialah Jakarta. Dua pertiga dari wilayah Indonesia adalah laut, implikasinya, hanya ada tiga perbatasan darat dan sisanya adalah perbatasan laut.
Perbatasan laut Indonesia berbatasan dengan 10 negara diantaranya Malaysia, Singapura, Filipina, India, Thailand, Vietnam, Republik Palau, Australia, Timor Leste, dan Papua Nugini. Sedangkan untuk wilayah darat, Indonesia berbatasan langsung dengan tiga negara, yakni Malaysia, Papua Nugini, dan Timor Leste dengan panjang garis perbatasan darat secara keseluruhan adalah 2914,1 km.

Adapun batas-batas wilayah laut Indonesia dengan negara-negara tetangga meliputi batas Laut Teritorial, batas Zona tambahan, batas perairan ZEE, dan batas Landas Kontinen. Yang dimaksud laut teritorial adalah wilayah kedaulatan suatu negara pantai yang meliputi ruang udara dan laut serta tanah di bawahnya sejauh 12 mil laut yang diukur dari garis pangkal. Zona tambahan mencakup wilayah perairan laut sampai ke batas 12 mil laut di luar laut teritorial atau 24 mil laut diukur dari garis pangkal. ZEE adalah suatu wilayah perairan laut di luar dan berdampingan dengan laut teritorial yang lebarnya tidak lebih dari 200 mil laut dari garis pangkal yang mana suatu negara pantai (coastal state) memiliki hak atas kedaulatan untuk eksplorasi, konservasi, dan pemanfaatan sumber daya alam. Landas kontinen suatu negara meliputi dasar laut dan tanah di bawahnya yang menyambung dari laut teritorial negara pantai melalui kelanjutan alamiah dari wilayah daratannya sampai ujung terluar tepian kontinen.

Belum tuntasnya penentuan garis batas suatu negara terhadap negara lain dapat berpotensi menjadi sumber permasalahan hubungan keduanya di masa datang. Di samping garis batas, masalah pelintas batas, pencurian sumber daya alam, dan kondisi geografi juga merupakan sumber masalah yang dapat menggangu hubungan antar negara.
Di kawasan Asia Tenggara, ketidak jelasan batas antar dua negara dialami oleh beberapa negara yang berbatasan, termasuk di laut Cina Selatan. Indonesia juga memiliki permasalahan perbatasan dengan negara-negara lain, terlebih lagi mengingat demikian luasnya wilayah darat dan perairan. Indonesia memiliki sepuluh negara tetangga yang berbatasan, yakni Malaysia, Singapura, Thailand, India, Filipina, Vietnam, Papua Nugini, Australia, Palau dan Timor Leste.


Pulau-Pulau Terluar Di Indonesia Yang Menjadi Perbatasan

Indonesia adalah Negara kepulauan berwawasan nusantara, sehingga batas wilayah di laut harus mengacu pada UNCLOS (United Nations Convension on the Law of the Sea) 82/ HUKLA (Hukum laut) 82 yang kemudian diratifikasi dengan UU No. 17 Tahun 1985. Indonesia memiliki sekitar 17.506 buah pulau dan 2/3 wilayahnya berupa lautan. Dari 17.506 pulau tersebut terdapat Pulau-pulau terluar yang menjadi batas langsung Indonesia dengan negara tetangga. Berdasarkan hasil survei Base Point atau Titik Dasar yang telah dilakukan DISHIDROS TNI AL, untuk menetapkan batas wilayah dengan negara tetangga, terdapat 183 titik dasa yang terletak di 92 pulau terluar, diantaranya :
·         Pulau Simeulucut, Salaut Besar, Rawa, Rusa, Benggala dan Rondo berbatasan dengan India.
·          Pulau Sentut, Tokong Malang Baru, Damar, Mangkai, Tokong Nanas, Tokong Belayar,         Tokong Boro, Semiun, Subi Kecil, Kepala, Sebatik, Gosong Makasar, Maratua, Sambit, Berhala, Batu Mandi, Iyu Kecil, dan Karimun Kecil berbatasan dengan Malaysia.
·         Pulau Nipa, Pelampong, Batu berhenti, dan Nongsa berbatasan dengan Singapura.
·         Pulau Sebetul, Sekatung, dan Senua berbatasan dengan Vietnam.
·         Pulau Lingian, Salando, Dolangan, Bangkit, Manterawu, Makalehi, Kawalusu, Kawio, Marore, Batu Bawa Ikang, Miangas, Marampit, Intata, kakarutan dan Jiew berbatasan dengan Filipina.
·         Pulau Dana, Dana (pulau ini tidak sama dengan Pulau Dana yang disebut pertama kali, terdapat kesamaan nama), Mangudu, Shopialoisa, Barung, Sekel, Panehen, Nusa Kambangan, Kolepon, Ararkula, Karaweira, Penambulai, Kultubai Utara, Kultubai Selatan, Karang, Enu, Batugoyan, Larat, Asutubun, Selaru, Batarkusu, Masela dan Meatimiarang berbatasan dengan Australia.
·         Pulau Leti, Kisar, Wetar, Liran, Alor, dan Batek berbatasan dengan Timor Leste.
·         Pulau Budd, Fani, Miossu, Fanildo, Bras, Bepondo danLiki berbatasan dengan Palau.
·         Pulau Laag berbatasan dengan Papua Nugini.
·         Pulau Manuk, Deli, Batukecil, Enggano, Mega, Sibarubaru, Sinyaunau, Simuk dan wunga berbatasan dengan samudra Hindia

Diantara 92 pulau terluar ini, ada 12 pulau yang harus mendapatkan perhatian serius dintaranya:
1. Pulau Rondo
Pulau Rondo terletak di ujung barat laut Propinsi Nangro Aceh Darussalam (NAD). Disini terdapat Titik dasar TD 177. Pulau ini adalah pulau terluar di sebelah barat wilayah Indonesia yang berbatasan dengan perairan India.
2. Pulau Berhala
Pulau Berhala terletak di perairan timur Sumatera Utara yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Di tempat ini terdapat Titik Dasar TD 184. Pulau ini menjadi sangat penting karena menjadi pulau terluar Indonesia di Selat Malaka, salah satu selat yang sangat ramai karena merupakan jalur pelayaran internasional.
3. Pulau Nipa
Pulau Nipa adalah salah satu pulau yang berbatasan langsung dengan Singapura. Secara Administratif pulau ini masuk kedalam wilayah Kelurahan Pemping Kecamatan Belakang Padang Kota Batam Propinsi Kepulauan Riau. Pulau Nipa ini tiba tiba menjadi terkenal karena beredarnya isu mengenai hilangnya/tenggelamnya pulau ini atau hilangnya titik dasar yang ada di pulau tersebut. Hal ini memicu anggapan bahwa luas wilayah Indonesia semakin sempit.
Pada kenyataanya, Pulau Nipa memang mengalami abrasi serius akibat penambangan pasir laut di sekitarnya. Pasir pasir ini kemudian dijual untuk reklamasi pantai Singapura. Kondisi pulau yang berada di Selat Philip serta berbatasan langsung dengan Singapura disebelah utaranya ini sangat rawan dan memprihatinkan.
Pada saat air pasang maka wilayah Pulau Nipa hanya tediri dari Suar Nipa, beberapa pohon bakau dan tanggul yang menahan terjadinya abrasi. Pulau Nipa merupakan batas laut antara Indonesia dan Singapura sejak 1973, dimana terdapat Titik Referensi (TR 190) yang menjadi dasar pengukuran dan penentuan media line antara Indonesia dan Singapura. Hilangnya titik referensi ini dikhawatirkan akan menggeser batas wilayah NKRI. Pemerintah melalui DISHIDROS TNI baru-baru ini telah menanam 1000 pohon bakau, melakukan reklamasi dan telah melakukan pemetaan ulang di pulau ini, termasuk pemindahan Suar Nipa (yang dulunya tergenang air) ke tempat yang lebih tinggi.
4. Pulau Sekatung
Pulau ini merupakan pulau terluar Propinsi Kepulauan Riau di sebelah utara dan berhadapan langsung dengan Laut Cina Selatan. Di pulau ini terdapat Titik Dasar TD 030 yang menjadi Titik Dasar dalam pengukuran dan penetapan batas Indonesia dengan Vietnam.
5. Pulau Marore
Pulau ini terletak di bagian utara Propinsi Sulawesi Utara, berbatasan langsung dengan Mindanau Filipina. Di pulau ini terdapat Titik Dasar TD 055.
6. Pulau Miangas
Pulau ini terletak di bagian utara Propinsi Sulawesi Utara, berbatasan langsung dengan Pulau Mindanau Filipina. Di pulau ini terdapat Titik Dasar TD 056.
7. Pulau Fani
Pulau ini terletak di Kepulauan Asia, Barat Laut Kepala Burung Propinsi Irian Jaya Barat, berbatasan langsung dengan Negara Kepulauan Palau. Di pulau ini terdapat Titik Dasar TD 066.
8. Pulau Fanildo
Pulau ini terletak di Kepulauan Asia, Barat Laut Kepala Burung Propinsi Irian Jaya Barat, berbatasan langsung dengan Negara kepulauanPalau. Di pulau ini terdapat Titik Dasar TD 072.
9. Pulau Bras
Pulau ini terletak di Kepulauan Asia, Barat Laut Kepala Burung Propinsi Irian Jaya Barat, berbatasan langsung dengan Negara Kepualuan Palau. Di pulau ini terdapat Titik Dasar TD 072A.
10. Pulau Batek
Pulau ini terletak di Selat Ombai, Di pantai utara Nusa Tenggara Timur dan Oecussi Timor Leste. Dari Data yang penulis pegang, di pulau ini belum ada Titik Dasar.
11. Pulau Marampit
Pulau ini terletak di bagian utara Propinsi Sulawesi Utara, berbatasan langsung dengan Pulau Mindanau Filipina. Di pulau ini terdapat Titik Dasar TD 057.
12. Pulau Dana
Pulau ini terletak di bagian selatan Propinsi Nusa Tenggara Timur, berbatasan langsung dengan Pulau Karang Ashmore Australia. Di pulau ini terdapat Titik Dasar TD 121.


Daftar nama provinsi yang ada di Republik Indonesia
A. Pulau Sumatra
1. Nanggroe Aceh Darussalam / NAD (Daerah Istimewa)
2. Sumatera Utara / Sumut
3. Sumatera Barat / Sumbar
4. Bengkulu
5. Riau
6. Kepulauan Riau / Kepri
7. Jambi
8. Sumatera Selatan / Sumsel
9. Lampung
10. Kepulauan Bangka Belitung / Babel
B. Pulau Jawa
11. DKI Jakarta / Daerah Khusus Ibukota Jakarta
12. Jawa Barat / Jabar
13. Banten
14. Jawa Tengah / Jateng
15. DI Yogyakarta / Daerah Istimewa Yogyakarta
16. Jawa Timur / Jatim
C. Pulau Kalimantan
17. Kalimantan Barat / Kalbar
18. Kalimantan Tengah / Kalteng
19. Kalimantan Selatan / Kalsel
20. Kalimantan Timur / Kaltim
D. Nusa Tenggara
21. Bali
22. Nusa Tenggara Barat
23. Nusa Tenggara Timur
E. Pulau Sulawesi
24. Sulawesi Barat / Sulbar
25. Sulawesi Utara / Sulut
26. Sulawesi Tengah / Sulteng
27. Sulawesi Selatan / Sulsel
28. Sulawesi Tenggara / Sultra
29. Gorontalo
F. Kepulauan Maluku dan Pulau Papua
30. Maluku
31. Maluku Utara
32. Papua Barat
33. Papua
Tambahan :
Provinsi Baru Hasil Pemekaran :
1. Kepulauan Riau
2. Kepulauan Bangka Belitung
3. Banten
4. Gorontalo
5. Maluku Utara
6. Papua Barat